Menelusuri Masjid Nurul Falah, Pasar Legi

Pasar Legi merupakan salah satu pusat perdagangan di Kota Surakarta. Pasar yang berada di wilayah Kecamatan Banjarsari ini merupakan pusat kegiatan jual-beli sembako, sayur mayur, buah-buahan dan hasil-hasil bumi lainnya. Di pasar ini tersedia berbagai barang-barang tersebut paling komplit daripada pasar-pasar tradisional lain yang ada di Solo. Pasar Legi mencapai puncak keramaiannya berkisar pada jam-jam 02:00 dinihari hingga menjelang Subuh. Pada waktu-waktu awal, yakni tengah malam hingga sekitar jam 02:00, terjadi kesibukan para pedagang yang menerima kedatangan barang-barang dagangan, yang biasanya langsung dikerubuti oleh pembeli yang rata-rata penjual sayur juga dan akan dijual lagi di pasar-pasar yang lain, bahkan hingga ke luar Solo. Memasuki jam-jam 02:00 hingga Subuh, biasanya mulai berdatangan para ibu-ibu rumah tangga yang berbelanja untuk kebutuhan rumah, dengan harapan mendapatkan barang yang segar, lebih murah dan bisa mendapat banyak pilihan.

Denyut nadi pasar yang tidak pernah berhenti tersebut digerakkan oleh banyak pekerja. Mulai dari pedagang, sopir, kuli angkut, pengemudi becak, hingga petugas kebersihan. Orang-orang inilah yang diincar untuk menjadi sasaran atau peserta Rihlah Dakwah. Sesuai dengan target kita, bahwa peserta Rihlah Dakwah adalah orang Muslim yang masih awam dan belum banyak beraktivitas ibadah di masjid. Namun, tidak mudah untuk mengajak mereka ikut dalam kegiatan Rihlah Dakwah. Kami memahami sepenuhnya. Hiruk pikuk suasana pasar, panas terik, dan kesibukan bekerja tentunya. Berbagai upaya kami lakukan agar target yang direncanakan dapat diperoleh. Melalui salah satu relawan yang kami kenal, bersama Mono Herwandani mendatangi satu per satu para pekerja untuk mengundang secara langsung agar hadir di acara Rihlah Dakwah.

Di lain tempat, tepatnya di Masjid Jami’ Assagaf, sebagian Tim Rihlah Dakwah mempersiapkan perlengkapan yang dibutuhkan sebelum menuju ke lokasi. Masjid Nurul Falah yang berada dalam komplek Pasar Legi digunakan sebagai tempat pelaksanaan Rihlah Dakwah. Sembari menunggu para peserta, Tim Rihlah mempersiapkan peralatan yang akan digunakan seperti sound system dan kamera.

Kegiatan Rihlah Dakwah di Masjid Nurul Falah, Pasar Legi ini terlaksana antara bulan Februari-Maret 2012. Mono Herwandani, selaku presenter acara mendatangi satu persatu orang yang telah diberi undangan pada tahap sebelumnya. Ia mendapat peserta yang berbeda-beda profesi. Ada yang sebagai juru parkir, petugas kebersihan, buruh, pedagang keliling dan pengemudi becak. Selain itu, undangan juga dititipkan kepada Takmir Masjid Nurul Falah agar diserahkan kepada orang-orang yang bersedia hadir. Dari 14 undangan yang disebarkan, sebanyak 12 orang yang hadir pada pertemuan pertama. Dan ternyata orang-orang tersebut berasal dari luar kota Surakarta. Mereka adalah orang urban yang merantau keluar dari daerahnya.

Dalam pertemuan pertama, materi yang disampaikan seputar tauhid dan perjalanan hidup manusia. Penyampaian dilakukan secara sederhana oleh Ust Umar Zen sehingga mudah dipahami oleh mereka yang masih awam. Materi pada pertemuan yang kedua berkaitan dengan tata cara berwudhu, dan pertemuan yang ketiga terkait dengan tata cara shalat.

Menjelang waktu dhuhur, Tim Rihlah menyajikan nasi bungkus yang telah dipersiapkan sebelumnya. Para peserta beserta seluruh anggota tim menikmatinya bersama-sama dengan lahap. Kemudian, sejumlah infaq diberikan kepada peserta sebagai ganti waktu bekerja mereka yang telah tersita karena mengikuti kegiatan Rihlah Dakwah.

Di akhir pertemuan, Mono Herwandani menyempatkan diri untuk mewawancarai salah satu peserta yang bernama Anwar. Usianya masih muda. Bekerja sebagai petugas kebersihan di Pasar Legi selama 6 tahun. Di sela-sela pekerjaan utamanya, ia juga membantu mengangkut barang-barang jika diperlukan oleh pedagang atau pembeli yang ada di sekitar pasar. Dengan jujur, ia merasa senang dengan acara Rihlah Dakwah. Karena ada guru yang memberikan petunjuk tentang tatacara beribadah, wudhu yang baik, dan ngaji yang baik. Selain itu juga diberi motivasi. Cara penyampaiannya sederhana sehingga ia mudah memahami materi. Bagi Abdul Karim, takmir Masjid Nurul Falah yang telah membantu Tim Rihlah Dakwah, kegiatan ini sangat bagus dan bermanfaat. Ia bersama kawan-kawan juga termotivasi untuk menghidupkan kembali berbagai kegiatan rutin yang ada di masjid. Komentar juga hadir dari Hendri Kristiawan, salah seorang pengusaha yang ada di Pasar Legi. Dari pengamatan dan kehadirannya pada beberapa pertemuan Rihlah Dakwah, menurutnya kegiatan tersebut sangat penting untuk berkesinambungan sehingga memberikan bekas atau dampak yang nyata bagi para pesertanya. Rihlah Dakwah memberikan banyak ilmu, yang tadinya belum tahu menjadi tahu. Yang tadinya belum rajin shalat kini menjadi rajin shalat.

Hendri Kristiawan juga langsung mempraktekkan materi yang pernah disampaikan. Kini, sebelum berangkat bekerja dia bersuci dulu, berbeda dengan sebelum mengikuti rihlah. Harapannya, dengan bersuci terlebih dahulu, pekerjaannya tersebut akan dihitung sebagai ibadah. Mengenai infaq yang diberikan kepada peserta, menurutnya itu adalah hal yang boleh-boleh saja. Selain sebagai spirit atau semangat agar peserta mau hadir, juga untuk membantu pendapatan dari para peserta. Jadi bukan istilahnya ‘membeli’ mereka untuk hadir, tetapi lebih seperti mengundang tamu. Sudah sepantasnya sebagai tuan rumah untuk menjamu para tamu yang datang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.