TATA CARA WUDHU YANG BENAR
Fiqih / 17 Oktober 2017

Wudhu merupakan sesuatu hal yang sangat penting yang harus kita perhatikan, pelajari dan melihat langsung praktek yang di contoh kan oleh seorang guru. Karena wudhu merupakan kunci pembukaan dari solat. Apabila wudhu kita tidak sah, maka solat kita pun tidak akan sah. Berikut ini kami hadirkan contoh praktek wudhu yang dicontohkan oleh AlHabib Hasan Bin Ahmad Alkaf,seorang ulama dari madinah. beliau adalah murid dari Alhabib Zein Bin smith madinah.

Amalan Bulan Muharrom
Fiqih / 25 September 2017

Oleh : Buya Yahya (Pengasuh LPD Al-Bahjah Cirebon) Bulan Muharrom adalah salah satu dari empat bulan mulia yang disebutkan dalam Al-Quran. Amalan yang di anjurkan adalah semua amalan yang di anjurkan di bulan lain sangat di anjurkan di bulan ini, hanya saja ada amalan yang sangat dianjurkan secara khusus di bulan ini yaitu : 1. Puasa tanggal 10 yang disebut dengan puasa ‘Asyuro, seperti yang telah disebutkan dalam hadits : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ( هَذَا يَوْمُ عَاشُورَاءَ وَلَمْ يَكْتُبْ اللَّهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ وَأَنَا صَائِمٌ فَمَنْ شَاءَ فَلْيَصُمْ وَمَنْ شَاءَ فَلْيُفْطِرْ ) Rosulullah SAW bersabda : “Ini (10 Muharrom) adalah hari ‘Asyuro dan Allah tidak mewajibkan puasa atas kalian dan sekarang aku berpuasa, maka siapa yang mau silahkan berpuasa dan siapa yang tidak mau silahkan berbuka (tidak berpuasa) “ (Bukhori :1899 dan Muslim : 2653) 2. Dengan pahala akan diampuni dosa tahun yang lalu : صِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاء، أَحْتَسِبُ عَلَى اللهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ “ Dari Abu Qatadah -radhiyallahu ‘anhu-, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang puasa hari ‘Asyura. Beliau menjawab, “(Puasa tersebut) Menghapuskan dosa satu tahun yang lalu “. (Muslim : 2746). 3. Sangat dianjurkan untuk ditambah agar bisa berpuasa di hari…

Hukum ber-Qurban dalam lintas Madzhab
Fiqih / 10 Agustus 2017

Madzhab Syafii : Hukum ber-Qurban adalah Sunnah Muakkad bagi setiap orang yang mampu/kaya, dan tidak diwajibkan atasnya. Imam Al Abdari menyatakan bahwa pendapat ini adalah pendapatnya mayoritas para Sahabat. Imam Al Khattabi menyatakan bahwa pendapat ini adalah pendapatnya moyoritas para Ulama’. أن مذهبنا أنها سنة مؤكدة في حق الموسر، ولا تجب عليه. وبهذا قال اكثر العلماء. قال العبدري : هو قول اكثر الصحابة. قال الخطابي : هو قول اكثر العلماء. المجموع شرح المهذب Madzhab Maliki : Hukum ber-Qurban adalah Sunnah Wajibah yang tidak seharusnya ditinggalkan oleh orang-orang yang merdeka dari Muslimin. قال مالك : الأضحية سنة واجبة لا ينبغي تركها القادر عليها من احرار المسلمين إلا الحاج، فليست عليهم أضحية وإن كان من سكان منى. التاج والإكليل (فقه المالكي) Madzhab Hanbali : Hukum ber-Qurban adalah Sunnah Mu’akkad. والأضحية مشروعية إجماعا … وهي سنة مؤكدة لمسلم. كشاف القناع (فقه الحنبلي) Madzhab Hanafi : Hukum ber-Qurban adalah Wajib dalam setiap tahunnya atas orang-orang yang Muqim. Imam As Shohawi menyebutkan bahwa pendapat tersebut adalah pendapat Imam Abu Hanifah, sedangkan menurut dua murid andalan beliau (Abi Yusuf dan Muhammad) hukum ber-Qurban adalah Sunnat Mu’akkad. فقال ابو حنيفة واصحابه أنها واجبة مرة في كل عام على المقيمين من اهل الامصار. وذكر الصحاوي وغيره : أن…

Dalil Salaman Setelah Solat
Fiqih / 24 Juli 2017

Bersalaman setelah shalat memiliki dalil dari dua hadis sahih berikut: Nabi bersalaman setelah shalat Ashar خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – بِالْهَاجِرَةِ إِلَى الْبَطْحَاءِ فَتَوَضَّأَ ثُمَّ صَلَّى الظُّهْرَ رَكْعَتَيْنِ ، وَالْعَصْرَ رَكْعَتَيْنِ ، وَقَامَ النَّاسُ فَجَعَلُوا يَأْخُذُونَ يَدَيْهِ ، فَيَمْسَحُونَ بِهَا وُجُوهَهُمْ ، قَالَ فَأَخَذْتُ بِيَدِهِ ، فَوَضَعْتُهَا عَلَى وَجْهِى ، فَإِذَا هِىَ أَبْرَدُ مِنَ الثَّلْجِ ، وَأَطْيَبُ رَائِحَةً مِنَ الْمِسْكِ – رواه البخارى Sahabat Abu Juhaifah berkata: “Nabi keluar saat terik panas matahari ke kawasan Batha, kemudian Nabi berwudlu, lalu salat Dzuhur dan Ashar. Para Sahabat berdiri memegang kedua tangan Nabi dan mengusapkan ke wajah mereka. Saya pun memegang tangan Nabi dan saya letakkan di wajah saya. Ternyata tangan Nabi lebih dingin dari salju dan lebih harum dari pada minyak kasturi” (HR Bukhari) Nabi bersalaman setelah shalat Shubuh عَنْ يَزِيدَ بْنِ الأَسْوَدِ السُّوَائِىَّ أَنَّهُ صَلَّى مَعَ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- الصُّبْحَ فَذَكَرَ الْحَدِيثَ قَالَ ثُمَّ ثَارَ النَّاسُ يَأْخُذُونَ بِيَدِهِ يَمْسَحُونَ بِهَا وُجُوهَهُمْ. قَالَ َأَخَذْتُ بِيَدِهِ فَمَسَحْتُ بِهَا وَجْهِى فَوَجَدْتُهَا أَبْرَدَ مِنَ الثَّلْجِ وَأَطْيَبَ رِيحاً مِنَ الْمِسْكِ – رواه أحمد “Dari Yazid bin Aswad al-Suwai, bahwa ia salat Subuh dengan Nabi, lalu para Sahabat berdiri memegang tangan Nabi dan mengusap ke wajah mereka. Saya pun memegang…

Dzikir Memakai Tasbih
Fiqih / 15 Juli 2017

Kyai-kyai kita banyak yang gemar berdzikir menggunakan Tasbih. Sementara bagi ulama Wahabi Syekh Ibnu Utsaimin yang membolehkan dzikir dengan Tasbih karena memiliki sumber riwayat, yaitu: عَنْ عَائِشَةَ بِنْتِ سَعْدِ بْنِ أَبِى وَقَّاصٍ عَنْ أَبِيهَا أَنَّهُ دَخَلَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَلَى امْرَأَةٍ وَبَيْنَ يَدَيْهَا نَوًى أَوْ حَصًى تُسَبِّحُ بِهِ – رواه ابو داود Dari Saad bin Abi Waqqash bahwa Saad dan Nabi shalla Allahu alaihi wa sallama datang kepada wanita yang di depannya ada batu / kerikil untuk dia bertasbih (HR Abu Dawud). Ada sebagian Sahabat juga bertasbih dengan alat: كَانَ لِأَبِي الدَّرْدَاءِ نَوًى مِن نَوَى الْعَجْوَةِ حُسِبَتْ عَشْرًا أَوْ نَحْوَهَا فِي كَيْسٍ وَكَانَ إِذَا صَلَّى الْغَدَاةَ أَقْعَى عَلَى فِرَاشِهِ ، فَأَخَذَ الْكَيْسَ فَأَخْرَجَهُنَّ وَاحِدَةً وَاحِدَةً يُسَبِّحُ بِهِنَّ فَإِذَا نَفَدْنَ أَعَادَهُنَّ وَاحِدَةً وَاحِدَةً ، كُلُّ ذَلِكَ يُسَبِّحُ بِهِنَّ Abu Darda memiliki 10 biji Ajwa dalam sebuah wadah. Jika ia sudah salat Subuh maka ia kembali ke tempat tidurnya, lalu mengambil wadah dan mengeluarkan satu persatu biji tadi seraya membaca tasbih. Jika selesai ia ulangi lagi satu persatu. Kesemuanya ia bacakan tasbih (Ahmad bin Hanbal, kitab az-Zuhud). Mufti Al-Azhar, Syekh Athiyah Shaqr memberi kesimpulan وَأَقُوْلُ : إِذَا كَانَ النَّبِىُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : “وَاعْقِدْنَ بِالأَنَامِلِ فَاِنَّهُنَّ…

Hukum mengangkat tangan saat berdoa, Mengaminkan Doa, Dan Mengusapkan Ke Wajah
Fiqih / 11 Juli 2017

Mengangkat tangan ketika berdo’a a. Hadist Imam Abu Dawud No. 1271 : Dari Malik bin yasar, Rosululloh bersabda : “Apabila kalian semua meminta kepada Alloh maka berdoalah dengan menggunakan bagian dalam dari telapak tangan kalian, dan jangan sekali-kali kalian berdoa  dengan menggunakan bagian dhohir telapak tangan kalian.Hadits riwayatb. imam muslim no. 1491, dari anas bin malik : “ sesungguh nya nabi tidak pernah mengangkat tangan yang setinggi tinggi nya dalam berdoa, hingga saat beliau berdoa meminta hujan(istisqo). Maka beliau mengkat tangan setinggi-tinggi nya hingga terlihat kulit putih dari ketiak beliauDalam kitab Nadamul mutannasil min alhadisil mutawatir  hal 190 : menjelaskan maksud dari hadist di atas Bahwasa nya biasanya  Rosululloh mengangkat tangan saat brdoa, namun ketika  sampai pada saat beliau berdoa untuk meminta hujan beliau berdoa tidak hanya mengangkat tangan, tapi mengagkat tangan setiggi-tinggi nya. Mengaminkan doa Surat yunus ayat 89 :             قَالَ قَدْ أُجِيبَتْ دَعْوَتُكُمَا فَاسْتَقِيمَا وَلَا تَتَّبِعَانِّ سَبِيلَ الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ            AlIah berfirman: “Sesungguhnya telah diperkenankan permohonan kamu berdua, sebab itu tetaplah kamu    berdua pada jalan yang lurus dan janganlah sekali-kali kamu mengikuti jalan orang-orang yang tidak mengetahui”. Dalam Tafsir Tobari Hal 186 juz 7 Di jelaskan : dalam ayat tersebut disebutkan telah diperkenankan permohonan KAMU BERDUA,…

PUASA TAPI TIDAK SOLAT???
Fiqih / 1 Juni 2017

Pertanyaan: Bagaimana hukum orang yang berpuasa tetapi tidak melaksanakan shalat? Jawaban: Dalam Madzhab Syafii orang yang meninggalkan shalat dibagi menjadi dua golongan: Orang yang tidak shalat lima waktu karena menganggap shalat itu tidak wajib, orang yang seperti ini dihukumi murtad. Jika demikian maka seluruh ibadahnya termasuk puasanya dianggap tidak sah. Orang yang tidak shalat lima waktu karena malas, ia tetap yakin bahwa shalat itu wajib. Orang yang demikian ini adalah orang fasik, ibadahnya tetap sah. Jadi puasanya tetap sah dalam artian tidak perlu diqodho, namun apakah pahalanya diterima atau tidak, itu adalah hak Allah SWT. Yang jelas ia telah melakukan dosa yang teramat besar dengan meninggalkan shalat dan orang yang tetap melakukan dosa ketika puasa termasuk ke dalam orang yang dikatakan oleh Rasulullah SAW dalam sabdanya: رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ Bertapa banyak orang yang berpuasa namun ia tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya selain rasa lapar. (HR Ibnu Majah) .   Wallahu `alam Referensi: المنهاج القويم شرح المقدمة الحضرمية (ص: 201) فصل: “في تارك الصلا  

Dalil Amaliah Setelah Shalat Fardlu
Fiqih / 10 Mei 2017

Berikut Ini Dalil Amaliah Setelah Shalat Fardlu Salaman Setelah Shalat Bersalaman setelah shalat memiliki dalil dari dua hadis sahih berikut: Nabi bersalaman setelah shalat Ashar خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – بِالْهَاجِرَةِ إِلَى الْبَطْحَاءِ فَتَوَضَّأَ ثُمَّ صَلَّى الظُّهْرَ رَكْعَتَيْنِ ، وَالْعَصْرَ رَكْعَتَيْنِ ، وَقَامَ النَّاسُ فَجَعَلُوا يَأْخُذُونَ يَدَيْهِ ، فَيَمْسَحُونَ بِهَا وُجُوهَهُمْ ، قَالَ فَأَخَذْتُ بِيَدِهِ ، فَوَضَعْتُهَا عَلَى وَجْهِى ، فَإِذَا هِىَ أَبْرَدُ مِنَ الثَّلْجِ ، وَأَطْيَبُ رَائِحَةً مِنَ الْمِسْكِ – رواه البخارى Sahabat Abu Juhaifah berkata: “Nabi keluar saat terik panas matahari ke kawasan Batha, kemudian Nabi berwudlu, lalu salat Dzuhur dan Ashar. Para Sahabat berdiri memegang kedua tangan Nabi dan mengusapkan ke wajah mereka. Saya pun memegang tangan Nabi dan saya letakkan di wajah saya. Ternyata tangan Nabi lebih dingin dari salju dan lebih harum dari pada minyak kasturi” (HR Bukhari) Nabi bersalaman setelah shalat Shubuh عَنْ يَزِيدَ بْنِ الأَسْوَدِ السُّوَائِىَّ أَنَّهُ صَلَّى مَعَ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- الصُّبْحَ فَذَكَرَ الْحَدِيثَ قَالَ ثُمَّ ثَارَ النَّاسُ يَأْخُذُونَ بِيَدِهِ يَمْسَحُونَ بِهَا وُجُوهَهُمْ. قَالَ َأَخَذْتُ بِيَدِهِ فَمَسَحْتُ بِهَا وَجْهِى فَوَجَدْتُهَا أَبْرَدَ مِنَ الثَّلْجِ وَأَطْيَبَ رِيحاً مِنَ الْمِسْكِ – رواه أحمد “Dari Yazid bin Aswad al-Suwai, bahwa ia salat Subuh dengan Nabi, lalu para Sahabat berdiri memegang…

ANJURAN PUASA REJEB
Fiqih , Topik , Umum / 28 April 2017

Sahabat Ibnu Abbas ra berkata : “Sesungguhnya Rasulullah saw melarang untuk berpuasa di Bulan Rajab.” (HR Ibnu Majah) Dalam hadits lain diceritakan, ketika Sayyidina Umar ra menjumpai orang-orang yang berpuasa di Bulan Rajab, beliau memukuli tangan mereka seraya berkata : َ “Tidaklah Rajab itu melainkan sebuah bulan yang dahulu diagungkan oleh ahli jahiliyah maka ketika datang Islam ia ditinggalkan.” (HR At Thabrani) Mereka berkata Dua hadits di atas, dan hadits-hadits lain yang serupa menunjukkan larangan yang tegas untuk berpuasa di bulan Rajab. Seluruh ulama hadits seperti Imam Ibnu Hajar Atsqolani, Imam Nawawi, Ibnu Sholah dan Ibnu Taimiyyah sepakat bahwa hadits-hadits yang datang mengenai keutamaan puasa bulan Rajab seluruhnya dhaif sehingga tidak dapat dijadikan hujjah. Dalam fatwanya Syaikh Ibnu Taimiyyah berkata : “Sedangkan mengenai puasa Bulan Rajab secara khusus, maka keseluruhan hadits-hadits mengenainya adalah dhaif bahkan maudhu (palsu). Ahli ilmu sama sekali tidak berpegang dengan sesuatu pun darinya dan bukan termasuk hadits dhaif yang diriwayatkan untuk dijadikan fadhail bahkan umumnya termasuk hadits-hadits palsu lagi dusta….”(1) Maka hendaknya kita tidak tertipu dengan banyaknya hadits-hadits palsu mengenai keutamaan berpuasa di Bulan Rajab. Jangan sampai kita melakukan sesuatu yang kita anggap ibadah padahal sebenarnya ia adalah bid`ah. Ingatlah bahwa segala bentuk bid`ah adalah sesat…

Scroll Up