HAUL CIDODOL 2017
Berita , Berita Masjid / 18 Oktober 2017

Diantara kutipan ceramah Guru Mulia Kita Al-Habib Umar bin Hafidzh pada acara peringatan Haul Syaikh Abu Bakar bin Salim yang di terjemahkan oleh Al-Habib Jindan bin Novel. Al-Habib Umar menjelaskan tentang dahsyatnya hari kiamat dan tentang kedudukan manusia yang berbeda beda di hari kiamat sesuai dengan amal mereka saat di dunia. Kemudian al-Habib Umar bin Hafidzh menjelaskan dengan nada tanya tahukah engkau dimana tempat engkau kelak di akhirat ? Apakah di bawah panasnya terik matahari ataukah di tempat ruang tunggu khusus ? Kemudian beliau melanjutkan, Dimanapun tempatmu kelak, engkau akan bersama orang yang didalam hatimu cinta kepadanya, siapapun orang tersebut. Jika engkau cinta kepada para Nabi maka engkau akan bersama para Nabi. Jika engkau cinta kepada para Wali maka engkau akan bersama para Wali. Jika engkau cinta kepada para Syuhada maka engkau akan bersama para Syuhada. Namun jika di dalam hatimu cinta terhadap Nasrani maka kelak engkau dikumpulkan bersama mereka. Atau jika di dalam hatimu cinta terhadap Yahudi maka kelak engkau dikumpulkan bersama mereka. Atau engkau cinta terhadap orang Fasiq dan orang Munafiq maka kelak engkau akan di kumpulkan bersama mereka. Tempat orang orang tersebut yang ada di dalam hatimu saat di dunia , itulah tempatmu kelak di hari kiamat…

Peringatan Hari Asyuro
Berita Masjid , Program Masjid / 30 September 2017

Tidak…demi ALLAH… bukan-lah bentuk cinta Bukanlah bentuk kemulyaan Dan bukanlah dari sunnah Memukul-mukul pipi, merobek-robek pakaian atau perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan sunnah Nabi bertentangan dengan Sayyiduna Husain, bertentangan dengan ayah beliau, bahkan bertentangan dengan kakek beliau… bertentangan dengan sunnah khulafaaur roosyiduun, bertentangan dengan ahli bait Nabi yang mulia… Bukanlah dikatakan kemuliaan, bukanlah dikatakan cinta…sesuatu yang bertentangan dengan petunjuk dan sunnah mereka semua… Nabi bersabda Bukanlah dari kelompok kami, seseorang yang menampar-nampar pipi, merobek-robek pakaian dan berdoa, beribadah seperti doa, ibadah jahiliyah (Bukhori Muslim). Dan ini lah cara kami masjid jami’ assegaf menghidupkan malam asyuro, yaitu dengan berdoa bermunajat mendekatkan diri kepada Alloh swt.    

Rihlah Dakwah SMK N 1 Surakarta
Berita , Berita Masjid , Program , Rihlah Dakwah / 21 September 2017

Dakwah…sebuah tugas yang di embankan oleh Rosululloh kepada umat ini, beliau SAW bersabda : “Sampaikan Dari ku walau satu ayat”. Dari hal ini lah MJA TV ingin mengambil bagian dalam dakwah. Banyak sekali macam nya cara berdakwah, dapat dilakukan dengan berceramah, mengajar, atau melalui syair-syair, melalui budaya. dan masih banyak lagi. Namun pada zaman yang sangat modern seperti ini, dengan berbagai macam kecanggihan teknologi dakwah melalui media sangat lah berpengaruh. Bahkan di zaman ini disebut zaman Perang pemikiran. Lewat media lah seseorang bebas menampilkan atau menayangkan apa yang ia ingin kan. Meski pun terdapat beberapa sanksi bagi tayangan yang tidak sesuai aturan dan norma negri ini. Namun tetap saja masih banyak akun atau situs yang menyimpang masih tetap dapat tayang. Melalui media ini lah kami MJA TV ingin memberikan apa yang bisa kami berikan untuk dakwah dan untuk menggebirakan hati kekasih kami Baginda Rosululloh SAW. Kali ini MJA TV bersama SMK N 1 SURAKARTA mengadakan rihlah dakwah, bertempat di SMK N 1 SURAKARTA. Para siswa/siswi juga beberapa guru sangat antusias dalam mengikuti rihlah dakwah ini. Mudah-mudahan dengan diadakan nya kajian dalam acara rihlah dakwah ini, dapat menambah semangat generasi muda pada umum nya dan khusus nya bagi para siswa/siswi SMK…

PERAYAAN TAHUN BARU
Berita Masjid , Dakwah Masjid / 20 September 2017

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ ۚ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً ۚ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa”. Jelas sudah apa yang diterangkan Alloh pada Ayat tersebut, bahwa Alloh mengistimewakan 4 bulan dari 12 bulan yang di ciptakan Alloh, 4 bulan tersebut yang dimaksud yaitu : dzulqo’dah, dzulhijjah, muharrom, dan rojab. Pada kesempatan kali ini, kita memasuki bulan muharom, salah satu bulan yang dimuliakan Alloh. Dimana pada bulan muharom ini umat islam di larang untuk melakukan perang, juga menjauhi dosa-dosa besar. Juga dianjurkan kita untuk berpuasa, seperti apa yang telah disabdakan Baginda Rosululloh SAW. ” Sebaik puasa setelah romadhon, adalah berpuasa di bulan muharom”. Kita juga ketahui bersama bahwa pada bulan muharom ini terdapat satu hari yang di…

KUNCI KELUARGA BAHAGIA
Berita Masjid , Dakwah Masjid / 15 September 2017

Potongan Ceramah Buya yahya ketika melakukan kunjungan dakwah ke masjid jami’ assegaf surakarta. Alhamdulillah jamaah yang hadir begitu antusias dalam menyimak nasihat yang di sampaikan oleh Buya yahya. banyak nasihat yang di sampaikan. akan tetapi mungkin ini adalah salah satu nasihat yang berkesan. yaitu tentang membina rumah tangga agar menjadi rumah tangga yang bahagia. Banyak cara dan banyak contoh yang telah di contohkan oleh panutan kita, baginda nabi muhammad SAW. Namun Vidio yang kami hadirkan ini mungkin menjadi cara bisa kita terapkan sebagai langkah awal. ” JANGAN MENUNTUT KEPADA ISTRI” DAN “JANGAN MENUNTUT KEPADA SUAMI”. SIMAK penjelasn buya yahya berikut ini…..

Makna Kemerdekaan
Berita , Berita Masjid / 18 Agustus 2017

Hadirin yang dirahmati Allah SWT, kali ini saya akan sedikit menyampaikan tentang cinta kepada Tanah air, tentang cinta kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia. Karena kita selaku umat Islam yang hidup di bawah kepemerintahan sebuah negara, wajib mematuhi pemimpinnya. Bukti dari kecintaan adalah kepedulian terhadap negara, tidak bersikap acuh tak acuh dengan kondisi negaranya. Jika kita melihat ada seseorang yang selalu menyerukan kecintaan kepada NKRI, selalu meneriakkan bela NKRI tapi dia bersikap acuh kepada kondisi yang bisa mengakibatkan keruntuhan NKRI, maka dipastikan cintanya palsu. Sebagaimana dalam hal apapun juga, Negara ini punya sisi dhohir dan batin, jiwa dan raga, seperti yang disebut dalam lagu kebangsaan Indonesia , “Bangunlah Jiwanya , Bangunlah Badanya”. Dhohir dari negara ini adalah alam nya, kota-kotanya dan pembangunan-pembangunan nya, sedang batin atau jiwa dari bangsa ini adalah akhlaq rakyatnya, mental penduduknya dan sistem yang berjalan di kepemerintahan nya. Keduanya harus beriringan, tapi jika ditanya mana yang lebih utama, maka tentu batin atau jiwa lebih utama daripada dhohirnya. Jika dhohirnya digalakan, pembangunan gencar dimana-mana, tapi akhlaq, mental dan sistem bangsa ini bobrok, maka tidak beda dengan bangunan Rumah Sakit yang megah dan bertingkat, meski bangunan itu indah dan canggih tapi penghuninya adalah orang-orang sakit. Tapi kebalikan nya, jika…

Sejarah Di balik Halal Bi Halal
Berita Masjid , Umum / 13 Juli 2017

Salah satu ciri khas Idul Fitri di Indonesia adalah tradisi anjang sana ke sanak saudara atau biasa dijuluki dengan istilah “halal bi halal”. Namun, tahukah anda mengapa masyarakat pada umumnya menggunakan istilah tersebut. Padahal, inti dari tradisi tersebut adalah saling memohon maaf? Mengapa tidak memakai padanan kata maaf berbahasa Arab: Al-‘afwu bil afwi atau maghfirotan bi maghfirotin, misalnya? Terkait hal tersebut, Pengasuh Pondok Pesantren Sirojuth Tholibin Brabo, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, KH Muhammad Shofi Al Mubarok menjelaskan, ulama terdahulu memilih istilah halal bi halal karena kalimat tersebut lebih pas dan fleksibel. Menurutnya, kalimat halal bi halal tidak hanya terkhusus pada urusan maaf memaafkan. Melainkan juga saling menghalalkan. Artinya, benar-benar memaafkan baik secara lahiriah maupun batiniah. “Ibarat najis kalau pakai kata al ‘afwu bil ‘afwi itu masih najis, tapi di-ma’fu (dimaafkan). Tapi kalau pakai istilah halal bi halal itu ibarat najis, sudah benar-benar disucikan. Thahirun muthahhirun,” tuturnya, Ahad (25/6). Sejarahnya : suaraindonesia-news.com – Bukan suatu hal yang asing lagi bagi kita, khususnya Umat Islam di Indonesia mengenai budaya Halal Bi Halal ketika lebaran telah tiba. KH Abdul Wahab Chasbullah seorang Ulama Besar Nadhatul Ulama punya cerita, kenapa ada Halal Bi Halal setelah lebaran dan siapa yang mencetus tradisi yang melekat dalam masyarakat muslim Indonesia dimanapun mereka tinggal, di…

KEMBALI SAAT BERSUJUD
Berita , Berita Masjid / 15 Mei 2017

Shaf pertama penuh berdesak-desakan. Habib Abdul Qadir bin Abdurrahman Assegaf mengisyaratkan kepada Habib Najib bin Thoha Assegaf agar maju ke shaf pertama di belakang beliau. Melihat shaf pertama yang telah penuh berdesak-desakkan itu Habib Najib bin Thoha berkata, “Shaf pertama telah penuh, wahai Habib.” Mendengar jawaban itu Habib Abdul Qadir menjawab dengan penuh kewibawaan, “Wahai anakku, majulah, kau tak mengetahui maksudku!” Jawaban itu menjadikan Habib Najib bin Thoha spontan maju ke shaf pertama, walaupun harus memaksakan diri mendesak shaf yang telah penuh itu. “Allaahu akbar”. Shalat Jum’at mulai didirikan. Habib Abdul Qadir membaca surat al-Fatihah, lalu membaca surat setelahnya dalam keadaan menangis. Di rakaat kedua pada sujud terakhir, beliau tak kunjung bangkit dari sujudnya. Suara nafasnya terdengar dari speaker masjid. Karena sujud itu sudah sangat lama, maka Habib Najib bin Thoha memberanikan diri untuk menggantikan beliau. “Allaahu akbar”, ucapan salam untuk mengakhiri shalat diucapkan. Para jamaah berhamburan lari ke depan ingin mengetahui apa yang terjadi pada habib Abdul Qadir. Saat itu mereka mendapati Habib Abdul Qadir tetap dalam keadaan sujud tak bergerak. Lalu tubuh yang bersujud itu dibalik oleh para jamaah, dan terlihatlah wajah Habib Abdul Qadir. Maasya-Allaah, setiap orang yang melihat wajah beliau, menitikkan air mata. Bagaimana tidak menitikkan…

Scroll Up