Larangan Menimbun Barang Dalam Islam (Termasuk Masker)

Wabah virus korona yang menjangkiti puluhan negara tak terkecuali di Indonesia membuat panik masyarakat. Tidak sedikit yang memanfaatkan kepanikan warga dengan menimbun barang termasuk masker untuk dijual kembali dengan harga berlipat-lipat.

Dalam pandangan Islam, orang yang menimbun barang untuk mengeruk keuntungan pribadi termasuk perbuatan dosa dan diharamkan. Rasulullah SAW bersabda:

عَنْ مَعْمَرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم. قَالَ: لاَ يَحْتَكِرُ إِلاَّ خَاطِئٌ

Dari Ma’mar bin Abdullah; Rasulullah bersabda, “Tidaklah seseorang melakukan penimbunan melainkan dia adalah pendosa.” (HR. Muslim).

Dalam riwayat lain disebutkan:

عن القاسم بن يزيد عن أبي أمامة قال : نهى رسول الله صلى الله عليه و سلم أن يحتكر الطعام

Dari Al-Qasim bin Yazid dari Abu Umamah; beliau mengatakan, “Rasulullah melarang penimbunan bahan makanan.” (HR Hakim).

Mengutip Pustaka Ilmu Sunni-Salafiyah (PISS-KTB), ihtikar (penimbunan) adalah menahan (menyimpan) barang pokok (aqwat) dari hasil pembelian saat harga beli tinggi dan dijual dengan harga yang lebih tinggi lagi, dengan tujuan memperoleh keuntungan yang lebih besar, pada kondisi dimana masyarakat (setempat atau di luar itu) berada dalam kebutuhan tinggi.

Hukum ihtikar termasuk praktik jual-beli (mu’amalah) yang diharamkan, walaupun secara akad dihukumi sah. Keharaman itu semakin bertambah di saat kebutuhan semakin tinggi.

Keharaman ihtikar salah satunya dikarenakan ada unsur Tadhyiiq yaitu membuat kesulitan kepada masyarakat umum minimal dalam sisi ekonomi/materi. Antara penjual dan pembeli tidak ada yang lebih utama dalam sisi mashlahat.

Artinya, keduanya masing-masing saling memberi dan mendapat mashlahat dari praktek mu’amalahnya. Untuk mendapat mashlahat dari jual beli itu, maka aturan dan syarat jual beli harus dipenuhi, serta motif dan tujuannya pun harus mengarah ke kemaslahatan bersama. Setelah itu, masing-masing berhak untuk mendaya gunakan pendapatannya demi kemaslahatan masing-masing tapi dengan tidak merugikan pihak lain, dan itulah idealism jual beli.

Ihtikar adalah salah satu bentuk mu’amalah yang tidak memberi maslahat kepada pihak lain dan bisa berdampak negatif terhadap perekonomian lokal (pembeli) maupun global (masyaakat umum).
Terlepas dari tujuan apakah barang yang dibeli itu untuk dijual atau konsumsi sendiri, apabila bisa memicu gejolak pasar, dan apabila melihat keumumam hadits bahwa menyimpan barang (makanan) dalam kurun 40 hari adalah memancing murka Alloh dan tidak menjadikan berkah, maka jelas tindakan ihtikar itu termasuk perbuatan tercela.

Wallahu A’lam Bishshowab

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.