PENYANDANG DISABILITAS UNJUK GIGI

video
Kemandirian adalah prinsip hidupnya, hingga tak mau merepotkan orang lain. Karena keberhasilan dalam merintis usaha tak hanya bisa diraih oleh orang normal semata dan benar kiranya, kini ia buktikan bahwa keterbatasan bukan hal yang harus diratapi sepanjang masa, namun justru menjadi cambuk untuk bisa bangkit dalam berusaha.

Di jaman modern ini, setiap orang memiliki kecenderungan suka mendokumentasikan segala moment baik yang formal maupun informal. Hal tersebut didukung dengan canggihnya tehnologi saat ini. Apalagi acara yang dianggap sakral dan sangat penting dalam kehidupan seseorang tentunya akan diberi perhatian lebih dan khusus. Pendokumentasiaannya tak sebatas asal-asalan saja, namun benar–benar disiapkan dan bahkan diserahkan pada ahlinya yang professional.

Keberadaan jasa syuting dimassa sekarang sudah cukup menjamur. Di tiap-tiap daerah pasti ada penyediaan jasa syuting seperti ini. Dan bahkan cakupannya tak hanya untuk acara wedding saja namun segala acara akan dapat didokumentasikan dengan baik oleh mereka.

Salah satu penyedia jasa syuting ada di rumah sederhana, di Dusun Cabean, Desa Sembungan, Kecamatan Nogosari, Kabupaten Boyolali Jawa Tengah. Meski berada didaerah pedesaan, namun kenyataannya jasa video syuting ini dapat merambah dibeberapa daerah diluar desanya. Hal ini menarik karena tak seperti yang lainnya, pemilik usaha video syuting ini adalah penyandang disabilitas, dengan kelumpuhan dikedua kakinya.

Pria kelahiran 1966 ini lumpuh sejak usia 28 tahun setelah terjatuh dalam proyek pengerjaan lift di Singapura. Sejak itulah, kehidupan pria bernama Sumarno ini berbalik 180 derajat.

Dulu ia adalah ahli teknik mesin. Sekarang, ia menjadi ahli elektronik. “Sejak ia divonis lumpuh, ia harus belajar lagi dari nol. Demi tetap bisa bekerja dia harus bersungguh-sungguh untuk kursus elektronik agar bisa menjadi bekal keahlian dalam merintis profesi barunya,”.

Di desanya, Sumarno dikenal sebagai difabel pekerja keras. Selain jasa video syuting di rumahnya, ia menerima orderan servis barang-barang elektronik, mulai dari televisi, radio, komputer, kulkas, dan perkakas elektronik lainnya. Pesanannya membanjiri ruang utama rumahnya.

Setiap hari, Sumarno membagi waktunya, karena 2 jasa pekerjaan yang ia tekuni. Mulai mengedit video dini hari hingga menjelang siang dan setelah itu barulah mengerjakan jasa service yang sudah mengantri.

Untuk menjalankan jasa video syuting tentu tak bisa sendiri, karena memang tak memungkinkan untuk dikerjakan dengan kondisi fisiknya. Maka dari itu ia pun menggandeng mitra kerja yang tugasnya mengeksekusi dilapangan yaitu mereka membantu dalam pengambilan gambar, lighting, dan lain-lainnya. Pak Marno mengambil bagian yang memungkinkan untuk ia kerjakan di rumah yaitu sebagai editing videonya.

Dengan merebahkan badan, ia pun dengan telaten mengerjakan editing video hingga selesai. Keterbatasan fisiknya tak membuat ia bermalas-malasan dan hanya berpangku tangan dirumah. Keseriusannya terlihat dengan existensinya dalam menggeluti dunia bisnis barunya. Baginya, pantang untuk dikasihani dan bergantung pada orang lain. Ia tunjukan kepada semua orang, meskipun dengan fisik terbatas ia tetap mampu mandiri bekerja keras dan sukses membuahkan hasil. Dari usahanya kini ia mampu membeli mobil untuk akomodasi bisnisnya.

Kemandirian adalah prinsip hidupnya, hingga tak mau merepotkan orang lain. Karena keberhasilan dalam merintis usaha tak hanya bisa diraih oleh orang normal semata dan benar kiranya, kini ia buktikan bahwa keterbatasan bukan hal yang harus diratapi sepanjang masa, namun justru menjadi cambuk untuk bisa bangkit dalam berusaha.

Barang siapa bersungguh-sungguh, niscaya kesuksesan akan mampu diraihnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.