MATA INSPIRASI – KAMPUNG SAYUR ORGANIK

KAMPUNG SAYUR ORGANIK

KAMPUNG SAYUR ORGANIK – MOJOSONGO, SURAKARTA

KAMPUNG SAYUR ORGANIK
KAMPUNG SAYUR ORGANIK MOJOSONGO

 

Sejak pertengahan 2013, sebuah gerakan pemberdayaan masyarakat mulai terasa geliatnya. Mulai dari yang anak-anak sampai para lansia terlihat sibuk dengan aktivitas barunya, yakni menanam sayuran. Di berbagai sudut gang dan tanah-tanah tidak produktif semuanya ditanami berbagai jenis sayuran. Alhasil Di kampung Ngemplak Sutan, RW 37 Kelurahan Mojosongo, Kecamatan Jebres, Solo, Jawa Tengah kini, kampung ini telah menjelma menjadi ‪kampung sayur organik.
Kota Solo memang banyak keunikan didalamnya, hal ini menunjukan bahwa memang Solo salah satu kota inspiratif. Banyak ciri khas yang dimiliki oleh Kota Solo, mulai dari kebudayaan yang masih terjaga, tradisi yang masih dijunjung tinggi, hingga objek wisata yang cukup bervariasi. Nama Kota Solo memang telah mendunia dengan karya batiknya, tak jarang para wisatawan baik dari lokal maupun mancanegara selalu menyempatkan untuk singgah dikota kecil ini. Udara yang sejuk dan tempat yang masih asri menjadikan para tamu yang datang di Kota ini merasa nyaman.
Keasrian sebuah kota tentu perlu dijaga bersama, sebagai wujud kepedulian dan cinta terhadap lingkungan. Oleh karena itu slogan dari Kota Solo adalah BERSERI yang artinya Bersih, Sehat, Rapi dan Indah. Surakarta berada sekitar 65 km timur laut Yogyakarta, 100 km tenggara Semarang dan 260 km barat daya Surabaya serta dikelilingi oleh Gunung Merbabu (tinggi 3145 m) dan Merapi (tinggi 2930 m) di bagian barat, dan Gunung Lawu (tinggi 3265 m) di bagian timur. Agak jauh di selatan terbentang Pegunungan Sewu. Tanah di sekitar kota ini subur karena dikelilingi oleh Bengawan Solo, sungai terpanjang di Jawa. Pariwisata selama ini cenderung didasarkan pada objek-objek fisik, seperti keindahan alam, bangunan, dan karya seni. Tanpa disadari, kehidupan sosial masyarakat kini menjadi objek wisata yang dicari. Yang akan kita angkat kali ini adalah konsep wisata kampung yang akan menjadi tren di masa datang. Di sini kita akan melihat suatu potensi yang dimiliki dari sebuah perkampungan. Tak jauh dari sungai bengawan solo, tepatnya di sebelah barat sungai bengawan solo, terdapat suatu kampung organik yang didalamnya banyak terdapat jenis sayuran yang ditanam sendiri oleh setiap warganya yang terletak di Kampung Ngemplak Sutan kelurahan mojosongo, Kecamatan jebres, Surakarta.
SEJARAH :
Asal muasalnya adalah seorang warga bernama Hargio (42) sukses memelopori berdirinya kampung organik di Ngemplak Sutan, Kelurahan Mojosongo, Kecamatan Jebres, Solo, Jawa Tengah. Awalnya, Hargio bersama delapan temannya yang juga satu kampung, mengikuti pelatihan tentang cara menanam sayuran organik di Tawangmangu, Karanganyar.
Pelatihan ini diselenggarakan oleh Kantor Ketahanan Pangan (KKP) Solo melalui pendamping rumah zakat. Maklum, Mojosongo ini merupakan kampung binaan KKP Solo dalam membudidayakan sayuran organik. Adapun tujuannya adalah untuk meningkatkan kesejahteraan serta gizi masyarakat di Mojosongo.
Kampung sayur organik menargetkan sebagai ikon kampung mandiri pangan, dan kini melalui Bapak Paryanto selaku koordinator pelaksana dari program kampung sayur organik, beliau menuturkan program yang sejak 2013 lalu mulai dirintis dan diinisiatori oleh lembaga rumah zakat. Dan hebatnya, masyarakat setempat sangat baik dalam menyambut program tersebut, sehingga memudahkan pengkondisian kampung tersebut sebagai kampung yang targetnya ingin menjadi kampung dengan pusat dari segala jenis sayuran, setiap rumah tangga di kampung ini memiliki minimal 50 jenis sayuran yang ditanam didalam polybag dan pot. Bapak Paryanto juga menceritakan, sebagai koordinator pelaksana program kampung organik dia selalu aktif dalam menghimbau kepada warga setempat untuk selalu berkerja sama dengan baik dan mendukung program tersebut dengan menjalankan komitmen yang telah disepakati bersama antara lainnya, kerja bakti masal pada setiap hari minggu untuk menanam sayuran dan pertemuan rutin satu kali dalam sebulan sebagai kordinasi kelompok.
Didalam mengembangkan program ini dengan perkembangan didalam berbagai hal, selain sayuran, kampung ini juga mengembangkan peternakan ayam sederhana, ternak ikan, dan budidaya jamur tiram. Hal itu diyakini oleh Bapak Paryanto sebagai hal yang sangat bermanfaat sekali bagi warganya. Karena dengan komposisi tersebut, minimal warga bisa menikmati atau mencukupi kebutuhan pangannya lewat hasil tersebut. Selain itu, dibutuhkan pula tanah yang baik untuk menanam, maka hasil kotoran dari ternak ayam itu dimanfaatkan sebagai pupuk kandang yang dipakai untuk membantu kesuburan tanah. Dalam lingkup yang luas, Bapak Paryanto menyatakan, bahwa program ini adalah program yang sangat baik sekali untuk ditiru oleh masyarakat luas, karena akan menimbulkan dampak yang sangat bagus dalam mewujudkan pemberdayaan masyarakat dalam mewujudkan ketahanan pangan yang nantinya akan berkembang sebagai kampung wisata agrowisata edukasi. Dan hal itu akan sangat menguntungkan sekali dalam sektor pariwisata kota.
Lahan yang ditanami masyarakatpun bukan lahan khusus melainkan hanya memanfaatkan pekarangan yang luasnya terbatas. Bapak paryanto mengungkapkan, bahwa program kampung sayur organik ini sebenarnya memiliki manfaat yang sangat bagus sekali, adapun diantara manfaatnya adalah, masyarakat bisa mewujudkan suasana perkampungan yang hijau, kemandirian dalam hal pangan dan meningkatkan taraf perekonomian masyarakat.
Dalam pemberdayaan program kampung sayur organik, sebenarnya semua elemen-elemen pendukungnya didapati dari hal-hal yang sangat sederhana, dalam media tanam misalnya, warga menggunakan media tanah, sekam bakar (arang) dan pupuk kandang sebagai bahannya.  Ketiga bahan tersebut diaduk menjadi satu dengan perbandingan satu banding satu semua. Lalu didiamkan selama beberapa hari dengan menjaga kelembapan tanah sampai muncul benih rumput yang tumbuh, dengan munculnya benih rumput yang tumbuh menandakan bahwa tanah itu sudah siap untuk ditanam. Pekerjaan mengolah tanah media tanam ini dilakukan oleh warga laki-laki, adapun warga wanitanya melakukan menanam dan memanen.
Keikutsertaan warga dalam program ini telah memberikan hasil yang nyata. Selain warga dapat menikmati hasil panennya warga juga bisa menjual bibit tanaman sebagai hasil pemberdayaannya. Ada dua RT dari RW 37 yang diprogramkan untuk mengikuti program kampung sayur organik ini, RT 01 dan RT 02.  Mengingat Kota Solo bukan merupakan daerah dengan iklim dingin. Untuk beberapa jenis tanaman yang ditanam juga terbatas, beberapa sayuran yang ditanam di antaranya cabai, terong, tomat, kangkung, selada dan lain-lain. Adapun kendala yang pernah dihadapi oleh warga adalah keterbatasan air akan tetapi dengan berkembangnya waktu, kendala tersebut mampu dilalui. Dan salah seorang warga berpesan bahwa program ini sangat bagus sekali untuk ditiru dan dikembangkan disegala perkampungan masyarakat, khususnya di Kota Surakarta.
Mengkonsumsi sendiri dengan memanfaatkan pekarangan yang ada, memanen hasil dan menjual nya adalah suatu keuntungan yang baik dari program kampung sayur organik, Kampung sayur organik, adalah bentuk suatu produk pemberdayaan kesehatan masyarakat dalam bidang gizi. Dengan konsep pemanfaatan lahan kurang produktif dan pemberdayaan,  tujuannya agar masyarakat semakin mandiri dan berdaya untuk mendukung ketahanan pangan Indonesia dan masyarakat siap mewujudkan kampung edukasi agrowisata sebagai bentuk kemajuan dalam tingkat kesejahteraan masyarakat.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.