KISAH MISBAH TUNA NETRA HAFIDZ QUR’AN

Tuna netra seorang hafidz
Terkadang kita merasa apa yang terjadi pada kehidupan ini, baik dan buruknya diukur dari kemauan kita sendiri. Padahal, pikiran semacam itu salah besar, karena makhluk adalah hasil dari penciptaan
 

Kehidupan merupakan anugerah dari Sang Maha Pencipta, oleh karenanya wajib bagi kita untuk mensyukuri dan menjalani dengan sebaik-baiknya. Rasa syukur akan mengarahkan kepribadian seseorang untuk senantiasa optimis, berpikir positif dan memunculkan harapan besar.

Sebagaimana pemuda kelahiran Kudus Jawa Tengah ini, diusianya yang ke 22 th telah berhasil meraih salah satu harapan besarnya yaitu menjadi penghafal Al Qur’an 30 Juz. Ia bernama Misbahul Arifin

Tekun, bersungguh-sungguh dan optimis adalah kunci dari keberhasilannya dalam menghafalkan ayat-ayat suci Al Qur’an. Hal ini dirintisnya mulai sejak masih kecil, dibawah bimbingan ayahandanya yang juga Hafidzul Qur’an, ia belajar sedikit demi sedikit. Inilah yang menjadi modal awal keseriusannya dalam mempelajari dan menghafalkan Kitab Suci Al Qur’an.

Misbah dimasa kecil masih berkesempatan melihat indahnya dunia, hingga diusianya ke 10 th. Ia mengalami gangguan penglihatan, sedikit demi sedikit jarak pandang matanya berangsur-angsur menurun. Pada akhirnya, diagnosa medispun menyatakan bahwa Misbah mengalami kebutaan permanen. Sulit rasanya untuk diterima, kondisi yang berbalik 360 derajat, membuatnya sempat berkecil hati. Namun ALLAH mempunyai takdir yang lain, yang telah disiapkan spesial untuk Misbah. Kecenderungannya menghafal Al Qu’an justru semakin besar.

Memang terkadang kita merasa apa yang terjadi pada kehidupan ini, baik dan buruknya diukur dari kemauan kita sendiri. Padahal, pikiran semacam itu salah besar, karena makhluk adalah hasil dari penciptaan. Tentunya apa yang dikehendaki oleh Sang Pencipta, itulah yang seharusnya menjadi ukurannya. Seperti halnya Misbah, meski diberi ujian dengan hilangnya indra penglihatan, namun ia dicerdaskan pikirannya, ditajamkan mata hati dan pendengarannya. Sehingga kemuliaan Al Qur’an yang begitu agung, mampu ia raih dengan menghafalnya genap 30 Juz.

Dengan metode talaki atau dibacakan ayat per ayat kemudian ditirukan. Menjadi cara yang tepat bagi Misbah dimasa kecilnya. Dibawah bimbingan ayahhandanya ia merasa termotivasi untuk ikut menjadi bagian para Hafidzul Qur’an. Tak hanya ayahnya, Misbahpun juga mendapatkan guru-guru yang tepat sesuai apa yang ia butuhkan. Dorongan dari merekalah sehingga tekatnya telah bulat untuk menyelesaikan hafalannya secara bertahap.

Meski demikian, ia tak begitu saja mengesampingkan kesibukan pendidikan akademisnya. Hingga tingkat Srata 1 mampu ia raih dengan hasil yang maksimal.

misbah

Kini kesibukan telah menanti. Sesuai dengan niatnya Ia pun mendedikasikan diri dalam bidang keagamaan, agar keberhasilan yang ia raih mampu ditularkan kepada orang lain. Dibalik keterbatasannya justru ia tunjukan atas kemampuan yang ia miliki. Sebagai motivator, Guru ngaji dan banyak lagi kesibukan yang lain nya, yang semua itu tetap ia jalani dengan penuh kegembiraan dan keikhlasan. Banyak sekali undangan yang harus ia datangi dan salah satunya di asrama SMA ABBS.

Menjaga hafalan adalah salah satu kesibukannya, berbekal mp3 yang sudah disimpan diHP ia pun rutin mengulang-ulang hafalannya agar tetap terjaga. Meski masih sangat muda hafalan 30 juz dari Al Qur’an menjadikan ia sosok yang berkarisma dan berwibawa. Kini ia juga dipercaya sebagai Imam Rowatib di Masjid Nurul Huda Kampus UNS Surakarta.

Inilah sosok Misbah yang sangat humanis dan mandiri, cerdas serta berprestasi. Meskipun dengan keterbatasan namun justru mampu melebihi manusia normal pada umumnya. Ia selalu berusaha menebar kemanfaatan ditengah-tengah lingkungannya, karena baginya apa yang ia miliki harus ditularkan serta diajarkan kepada orang-orang yang membutuhkan, terkhusus kepada sesama tuna netra. Motifasi inilah yang disebarkan oleh Misbah, karena pada dasarnya semua manusia mempunyai kesempatan yang sama untuk meraih kesuksesan. Misbahpun meyakini bahwa jika Al Qur’an bisa kita kuasai maka jalan kehidupan ini akan serba dimudahkan oleh ALLAH, oleh karena itu munculkanlah niat untuk mempelajari Al Qur’an meskipun hanya dilevel paling dasar.

Al Qur’an lah yang akan menjadi petunjuk hidup kita.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.