JONED, SOSOK YANG TIDAK PERNAH PUTUS ASA DAN PANTANG MENYERAH

Sudah bukan menjadi rahasia jika perjalanan menuju kesuksesan memang kerap kali dipenuhi tantangan. Selain kita menghadapi tantangan tersebut kita juga perlu menebar hal positif. Disini akan menghadirkan kisah figur yang penuh inspirasi. Pada Episode kali ini kita akan menghadirkan Kisah Penyandang Disabilitas yang tidak menyerah akan kondisinya tersebut. Berawal dari sebuah tekad yang besar beliau saat ini sudah memiliki usaha yang luar biasa. Penasaran dengan kisahnya, Berikut ini kisah Bapak Joned Taylor

JUNED TAYLOR

“Joned Taylor ”

Mata sebagai indra penglihatan merupakan organ vital bagi makhluk hidup. Dengan mata kita akan mampu melihat dunia. Sebuah profesi tak selalu menentukan kedudukan sosial bagi seseorang. Karena hakekatnya, tinggi dan tidaknya kedudukan seseorang terletak pada sisi kemanfaatan atas keberadaannya ditengah-tengah masyarakat. Paling baiknya seseorang tentunya yang paling baik atau bermanfat bagi makhluk yang lainnya.

Dikisahkan pada saat itu Bp. Joned berkendaraan sepeda motor roda tiga berhenti disebuah toko alat-alat jahit. Ia mengambil krek (alat bantu penyangga kaki) kemudian turun dan berjalan perlahan. Di toko itu Bp. Joned membeli beberapa peralatan jahit, kemudian pulang kembali ke tempat usahanya. Sesampainya dirumah, masih banyak tugas yang menantinya, dan salah satunya adalah memperhatikan dan mengarahkan beberapa orang stafnya yang sedang bekerja. Itulah kegiatan sehari-hari Joned dalam mengelola usahanya

Walau dia seorang penyandang cacat yang memiliki berbagai keterbatasan fisik, tetapi dia tidak pernah putus asa dan pantang menyerah serta mempunyai semangat yang tinggi untuk meraih mimpi dan kesuksesan. Dia juga memiliki kepedulian yang tinggi terhadap sesama penyandang cacat lainnya.

Bp. Joned, ( Eks anak didik BBRSBD Prof. Dr. Soeharso yang telah berhasil )
Bp. Joned yang mempunyai nama asli Muhammad Zubaidi lahir di Kudus, sebuah kota kecil di Jawa tengah yang terkenal dengan pabrik rokoknya pada tanggal 22 Mei 1965. Sewaktu kecil hingga remaja ia memiliki fisik yang sempurna, entah kenapa menginjak usianya yang ke-20 th, ia menderita panas tinggi yang menyebabkan kedua kakinya mengecil dan layuh. Meski demikian Joned tetap bersekolah hingga tamat SMP. Setelah tamat SMP Joned tidak bisa melanjutkan ke SMA karena lokasi sekolah jauh dan kesulitan transportasi. Joned yang waktu itu masih remaja hanya menghabiskan waktu di rumah, tidak memiliki kegiatan yang positif sehingga merasa bosan dan mulai berfikir kalau seperti ini terus tentunya ia tidak akan maju.

Akhirnya saat dia berusia 25 tahun, yaitu pada tahun 1990 Joned muda memulai babak baru dalam hidupnya. Ia mendaftarkan diri menjadi anak didik di Panti Rehabilitasi Cacat Tubuh atau RC Prof.Dr.Soeharso Surakarta (yang saat ini menjadi Balai Besar Rehabilitasi Sosial Bina Daksa/BBRSBD Prof.Dr.Soeharso Surakarta) dengan nomor register 208. Selama kurang lebih 2 tahun (1990-1992) Joned menjadi anak didik di RC Solo dan telah mendapatkan pelayanan rehabilitasi sosial, baik berupa bimbingan mental, bimbingan fisik dan bimbingan keterampilan. Selama di RC ia berminat pada vak keterampilan Jahit Putra dan berhasil lulus dengan baik pada tanggal 6 Februari tahun 1992.

Setelah lulus dari RC Bp. Joned kembali lagi ke Kudus dan melapor ke kantor kelurahan dan kecamatan tempatnya tinggal bahwa ia telah selesai mengikuti rehabilitasi di RC dan telah mempunyai keterampilan menjahit. Dari pihak kelurahan Bp. Joned diberi pinjaman berupa mesin jahit untuk digunakan dalam memulai usahanya di kampung halaman. Selama tiga (3) bulan Bp. Joned mencari order konveksi dari perusahaan Garment dan mulai menjahit dirumah. Selain pekerjaan borongan ia juga menerima permak (mengubah dan memperbaiki jahitan). Saat itu Bp. Joned belum berani menerima order menjahit pakaian karena merasa belum percaya diri dan takut hasilnya tidak memuaskan pelanggan. Namun demikian Bp. Joned tidak pernah menyerah. Dengan penuh ketekunan ia terus berlatih dan berlatih mencoba membuat pakaiannya sendiri berupa baju/hem dan celana panjang, setelah dirasa mahir barulah ia berani menerima order berupa pakaian/celana panjang dari pelanggan.

Awal merintis usaha hingga berjodoh dengan sang istri

Siti Istiqomah, lahir pada tanggal 12 Desember 1967, seorang yang juga penyandang cacat, berasal dari Klaten. Setelah mereka menikah, Siti Istiqomah yang kaki kanannya layuh karena penyakit polio akhirnyapun mendapatkan perawatan juga di RC, sembari berobat, ia juga mendapat ketrampilan yang sama seperti Juned suaminya. Pelan tapi pasti usaha keduanya “Joned Taylor” mulai menampakkan hasil yang menggembirakan. Selain menerima jasa menjahit pakaian pria dan wanita, vermak, juga menerima order borongan dari perusahaan garment. Di daerah sekitar Karanganyar. Semula semua pekerjaan mampu ditangani sendiri oleh pasangan suami istri ini, namun karena semakin banyaknya pelanggan maka Bp. Joned merekrut beberapa karyawan untuk membantu kelancaran usahanya. Baik itu teman-teman sesama difabel ataupun dari kalangan keluarganya sendiri. Usaha jahitan ini tampak semakin maju. Omset dari jerih payahnya cukup untuk membiayai kehidupan keluarga dan menyekolahkan putra putrinya hingga jenjang perguruan tinggi, tak cukup itu ia juga mampu menggaji karyawan dan membeli tanah serta membangunnya sebagai tempat usahanya sendiri saat ini.

Berhasil hingga membeli tanah dan membangunnya.

Pada tahun 1996, Sistim penggajian yang diterapkan Joned untuk karyawannya adalah gaji mingguan. Setiap minggu mereka mendapat antara Rp. 100.000 hingga Rp. 200.000. Khusus untuk tahun ajaran baru sekolah, penghasilannya bisa mencapai Rp. 500.000,- perminggu. Selain gaji, karyawan “Joned taylor” juga mendapatkan fasilitas berupa pemondokan dan makan 3 kali sehari. Hingga saat ini sudah banyak teman-teman penyandang cacat yang dibina Bp. Joned terutama lulusan dari BBRSBD Surakarta. Rata-rata dalam 2 tahun, ia merekrut 3 orang, maka sejak tahun 1996 sudah ada sekitar 24 orang yang telah berhasil di binanya, untuk menjadi wira usaha yang mandiri. Mereka yang telah mandiri ini tersebar di berbagai daerah di Pulau Jawa antara lain: Kudus, Demak, Salatiga, Matesih, Jongke, Magetan, Blitar, Purwodadi, Banjar Negara, dan lain sebagainya. Saat ini penyandang cacat yang masih ikut dengan Joned ada 4  orang semuanya lulusan dari BBRSBD Solo.

Keberhasilan Juned saat ini (rekrutmen karyawan)

Keberhasilan Juned juga didukung dengan adanya beberapa media cetak bahkan elektronik (sekels TV nasional) yang turut meng ekspose kegiatannya. Dari situlah namanya makin dikenal dan tentu selain materi yang di dapat dari peliputan tersebut, dampak lainnya, usaha penjahitan Joned banyak dikenal oleh masyarakat luas, dan tentu saja hal ini membuat omzet usahanya semakin meningkat. Salah satunya PT Kusuma Hadi Karanganyar mengajak kerjasama dengan memberikan order pembuatan pakaian jadi dalam partai besar, juga beberapa kantor seperti Koperasi AURI Surakarta, Kantor Konsultan Pembebasan Tanah, PT SKI bahkan keluarga Kusuma Hadi telah mempercayakan pembuatan seragam kerja karyawannya pada “Joned Taylor”.
Tidak Pernah Putus Asa dan Pantang Menyerah. Itulah kunci keberhasilan dalam menapaki kehidupan dan usahanya dari seorang penyandang cacat yang bernama Joned, yang pantas kita teladani.

(Penulis Naskah : Priyo)

Simak selengkapnya dalam video dokumenter dichanel youtube kami:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.