Habib Soleh Aljufri dan PP.Darul Mustofa

Habib soleh bin muhammad Al jufri,  atau Habib Sholeh Al-Jufri, demikian kerap para muhibbin memanggil habib kelahiran Surakarta, 30 September 1970. Selain dikenal sebagai penerjemah, ia juga mengisi kegiatan sehari-hari sebagai Pengasuh Pondok Pesantren Darul Musthofa di Desa Salam RT 01/03, Kecamatan Karang Pandan, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.

Beliau merupakan alumni pondok pesantren darul mustofa, tarim hadromaut. di bawah asuhan dan bimbingan seorang yang soleh, alim, tawadhu, akhlak. yaitu Alhabib Al musnid Habib umar bin muhammad bin salim bin hafidz. setelah menyelesaikan pembelajaran di tarim pada Tahun 1998, beliau bersama dengan angkatan pertama, pulang ke tanah air langsung diantar oleh Habib Umar.

Setelah pulang, beliau mulai mengajarakan ilmu-ilmu yang sudah beliau peroleh dari para ulama di tarim. beliau mulai mengisi kajian-kajian, ditambah lagi dengan adanya dukungan dari para tokoh di solo masa itu, seperti habib anis alhabsyi, hingga akhirnya habib soleh di bimbing untuk memberikan nasihat di acara maulid, khutbah jum'at. serta kajian lain nya.

Baru pada tahun 1999, beliau bekerja sama dengan para dai/ustadz di Solo mendirikan sebuah pondok pesantren yang direstui oleh Habib Anis dan Darul Mustofa Tarim.  Pada tahun 1999 pula pondok tersebut resmi di buka.

Setelah dakwah berjalan, pada tahun 1999 ada donatur yang menawarkan diri untuk membeli tanah wakaf. habib soleh  kemudian meminta saran pada Habib Anis kira nya tanah daerah mana yang baik untuk dibeli yang kemudian akan didirikan pondok pesantren. Akhirnya dipilihlah desa Salam, kecamatan Karangpandan, Kabupaten Karanganyar sebagai tempat pendirian pesantren. Rupanya, pilihan Habib Anis itu memang tepat dan punya maksud baik. Karena daerah Karangpandan itu berhawa sejuk, “Kalau daerah Tawangmangu terlalu dingin, di Karanganyar itu sudah panas. Jadi tidak perlu selimut kalau malam, dan AC kalau siang. Tempatnya bagus, udaranya sejuk dan nyaman untuk belajar, itu semua berkah dari Habib Anis,” terang Habib Sholeh.

Tahun 1999 itu juga akhirnya tanah yang dimaksud bisa terbeli dan pembangunan baru dimulai pada tahun 2000, yang meletakan batu pertama adalah Habib Anis Alhabsyi, Habib Muhammad bin Alwi Assegaf. Setahun berikutnya dibuka oleh Habib Anis dan Habib Umar bin Hafidz. Saat ini jumlah santri yang menetap di Darul Musthofa (Karangpandan), berjumlah 50 santri di dalam dan khoriji (di luar) ada sekitar 300 laki-laki dan perempuan. Kurikulum, pendidikan pesantren 95% mengambil kurikulum Darul Musthofa, Tarim. 5% adalah tambahan penyesuaian dengan keadaan di Indonesia.Walau Darul Musthofa Karangpandan itu terhitung masih baru, tapi kedatangannya mampu memberikan manfaat dan bisa diterima oleh masyarakat. Hal ini tak lepas dari cara pendekatan dakwah yang dibangun, yakni membangun pola kemitraan dengan masyarakat setempat.

“Pesantren ikut serta dalam kegiatan-kegiatan sosial dan keagamaan yang ada di masyarakat, seperti kegiatan khitanan masal setiap tahun, santunan anak yatim, zakat fitrah, Idul Adha, dan kita menerjunkan murid-murid ke masyarakat. Sehingga masyarakat betul-betul merespon,” katanya. Selain itu, di Darul Musthofa Karangpandan, ia juga mengadakan pengajian rutin mingguan khusus ibu-ibu. Serta pembacaan Ratibul Haddad tiap selapan (tiap Minggu Pon) yang dihadiri oleh masyarakat setempat. Menurut Habib Sholeh, tantangan dalam berdakwah di pesantren justru bukan dari luar, namun secara prinsip tantangan itu pada diri sendiri. “Asal kita punya niat bersungguh-sungguh dan semangat yang istiqamah serta ikhlas. Insyaallah tidak ada tantangan,” kata beliau habib soleh aljufri.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *