Makna Kemerdekaan

Hadirin yang dirahmati Allah SWT, kali ini saya akan sedikit menyampaikan tentang cinta kepada Tanah air, tentang cinta kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia. Karena kita selaku umat Islam yang hidup di bawah kepemerintahan sebuah negara, wajib mematuhi pemimpinnya. Bukti dari kecintaan adalah kepedulian terhadap negara, tidak bersikap acuh tak acuh dengan kondisi negaranya. Jika kita melihat ada seseorang yang selalu menyerukan kecintaan kepada NKRI, selalu meneriakkan bela NKRI tapi dia bersikap acuh kepada kondisi yang bisa mengakibatkan keruntuhan NKRI, maka dipastikan cintanya palsu.

Sebagaimana dalam hal apapun juga, Negara ini punya sisi dhohir dan batin, jiwa dan raga, seperti yang disebut dalam lagu kebangsaan Indonesia , “Bangunlah Jiwanya , Bangunlah Badanya”. Dhohir dari negara ini adalah alam nya, kota-kotanya dan pembangunan-pembangunan nya, sedang batin atau jiwa dari bangsa ini adalah akhlaq rakyatnya, mental penduduknya dan sistem yang berjalan di kepemerintahan nya.

Keduanya harus beriringan, tapi jika ditanya mana yang lebih utama, maka tentu batin atau jiwa lebih utama daripada dhohirnya. Jika dhohirnya digalakan, pembangunan gencar dimana-mana, tapi akhlaq, mental dan sistem bangsa ini bobrok, maka tidak beda dengan bangunan Rumah Sakit yang megah dan bertingkat, meski bangunan itu indah dan canggih tapi penghuninya adalah orang-orang sakit. Tapi kebalikan nya, jika negri itu dihuni oleh orang-orang yang bertaqwa, berakhlaq dan dengan sisitem kepemerintahan yang bersih, maka Allah SWT yang akan langsung membereskan segala permasalahan negri itu, sebagaimana disebutkan dalam Al qur’an Surat Al A’rof ; 96

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِن كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُم بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Artinya : “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.”

Begitu juga dengan sistem kepemimpinan, contoh misalnya dari sudut hukum, jika hukum itu tidak dijalankan dengan semestinya, dan hukum itu memihak kepada orang-orang tertentu, hingga pilih kasih, maka bisa dipastikan bangsa itu akan hancur. Pernah suatu ada pencurian di zaman Nabi SAW yang dilakukan oleh wanita terpandang, dan para sahabat enggan menjalankan hukum, hingga Nabi SAW kemudian bertanya, “Apakah kamu hendak memberi Syafa'at (keringanan) dalam hukum dari hukum-hukum Allah?” Kemudian beliau berdiri & berkhutbah, sabdanya : “Wahai sekalian manusia, hanyasanya yg membinasakan orang-orang sebelum kalian adalah, ketika orang-orang terpandang mereka mencuri, mereka membiarkannya (tidak menghukum), sementara jika orang-orang yg rendahan dari mereka mencuri mereka menegakkan hukuman had. Demi Allah, sekiranya Fathimah ( Imam Syafi’i selalu mengganti dengan kata FULANAH karena adab kepada putri kesayangan Nabi SAW) binti Muhammad mencuri, sungguh aku sendiri yg akan memotong tangannya. Dan dalam hadits Ibnu Rumh disebutkan, Hanyasanya yg menyebabkan kebinasaan orang-orang sebelum kalian”. [HR. Muslim No.3196].

Coba kita bandingkan dengan riwayat tentang seorang pezina yang bertaubat dan minta dirinya dihukum rajam, saat ada yang mencibir orang itu Rasulullah marah dan mengatakan, sungguh seandainya rahmat yang turun karena taubat wanita itu dibagi kepada seluruh kota ini, niscaya itu sudah cukup bagi mereka. Juga bandingkan dengan seorang yang dicambuk karena mabuk, dan dihina oleh para sahabat, kemudian Rasulullah SAW marah dan mengatakan, “jangan kau hina dia, sesungguh dihatinya ada kecintaan kepada Allah dan RasulNYA”. Kenapa soal pencurian ini Rasulullah SAW tidak membela tersangka justru marah kepada pembelanya ? karena ini soal HUKUM, ini soal kemaslahatan umat, ini soal keadilan.

Bisa kita bayangkan jika hukum bisa dibeli, maka pasti orang bisa berbuat semena-mena kepada orang lain, dan orang-orang yang kebal hukum tadi bisa bebas mengeksploitasi sebuah negri sepuasnya dan semaunya sendiri sesuai kepentingan dan keinginannya tanpa takut kena hukum. Itulah kenapa Nabi SAW mengkaitkan keadilan hukum dengan keruntuhan sebuah negri, mengkaitkan tegaknya hukum dengan hancurnya sebuah negara.

Maka marilah, kita sebagai Warga Negara Republik Indonesia yang baik, harus selalu peduli dengan kondisi bangsa ini, kita usahakan ikut berperan dalam usaha perbaikan iman, taqwa, akhlaq dan pendidikan semampu yang kita bisa, minimal kepada keluarga kita, anak-anak kita sendiri. Dan kita harus selalu peka dengan kedzaliman, jangan sampai karena kita tidak mau repot, karena sebab kita tidak ingin susah, kita sudah merasa nyaman dengan hidup yang kita jalani, lantas kita malah menikmati sebuah kesalahan. Jika kondisi kita semacam itu maka seperti yang digambarkan oleh Nabi SAW dengan para penghuni kapal, orang-orang yang di dibawah karena tidak mau mengganggu yang diatas, melubangi kapal karena butuh air, dan orang-orang yang diatas karena tidak mau ribut dengan yang dibawah, dan sudah nyaman dengan keadaan dirinya, mereka membiarkan saja kerusakan yang dilakukan orang-orang yang dibawah, maka tinggal ditunggu kapal itu tenggelam dan mereka musnah bersama-sama.

Hadirin yang dirahmati Allah SWT, negri kita ini ibarat kapal itu tadi, maka marilah kita bersama-sama menjaga kapal ini dengan peran kita masing-masing. Semoga Allah SWT selalu menjaga negri yang kita cintai ini, menjaga pemimpin-pemimpin kita, menjaga ulama-ulama kita, hingga negri ini menjadi negri yang baldatun thoyibatun wa robbun ghofur, negri yang diberkahi dari langit dan dari bumi nya, dan Allah SWT munculkan generasi penerus negri ini, generasi yang berakhlaq, bertaqwa dan berilmu, yang mampu menjadi pengayom bagi seluruh rakyat nya, mampu menjaga persatuan dan kesatuan dalam keragaman budaya, agama dan suku bangsa, semua karena Allah SWT.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *