KAJIAN IHYA ULUMIDDIN (Adab Membaca Alqur’an)

Imam haddad mengatakan : “ rukun agama kami ada empat yaitu :”

  1. Dalam ilmu Tafsir quran mengambil dari kitab Imam Albaghowi
  2. Dalam ilmu hadits mengambil kitab Albukhori
  3. Dalam urusan fiqih mengambil kitab Minhaju tolibin karangan Imam Nawawi Addimaski
  4. Adapaun kitab kitab lain yang dikumpulkan oleh para ulama terdahulu dan akan datang terkumpul semua dalam kitab Ihya ulumiddin

Sayyidina Ali bin Abi tolib mengatakan : “barang siapa yang memahami al’quran maka dia bisa dipastikan dapat menafsirkan beberapa ilmu yang lain”. Karena alquran meliputi semua ilmu yang ada. Baik ilmu yang sifat nya ketuhanan, akhlak, hokum syariat dan lain sebgai nya. Baik yang dzohir ataupun yang batin. Sayyidina Abddulloh Bin Abbas mengatkan: “Barang siapa yang diberikan hikmah oleh Alloh (makna nya yang diberikan kefahaman akan alquran), maka orang tersebut telah diberi kebaikan yang banyak oleh alloh. Didalam Hadits yang riwaytkan imam turmudzi dikatakan : “barang siapa yang menafsirkan alquran dengan pendapat nya sendiri, maka itu dikatakan salah. Walau pendapat nya benar. Hadits : “barang siapa yang menafsirkan alqur’an dengan pendapat nya sendiri, maka itu dilarang. Para mufasirin seprti misal Imam Baghowi mengambil tafsir nya dari Ibn abbas, imam mujahid, imam qotadah. Bukan beliau menafsirkan alqur’an dengan ucapan beliau sendiri. Sayyidina Abu Bakar Mengatakan : “Saya hidup di bumi Alloh, dan dinaungi oleh langit nya Alloh. Mana berani saya menafsirkan Alqur’an kalamulloh dengan kalam saya sendiri. Ini ucapan seorang pembesar sahabat sekelas sayyidina Abubakar. Seseorang yang ingin menafsirkan alqur’an tidak boleh Dengan dasar pendengaran nya sendiri, dia harus mengambil tafsir dengan cara talaqi yaitu belajar secara langsung bertatap muka dengan seorang ulama, seorang guru yang memiliki sanad keilmuan yang jelas. Buka dengan lewat media social atau belajar lewat internet. kriteria menafsiran alqur’an :

  1. Dalam menafsirkan alquran hendak nya dengan cara menafsrikan alquran dengan ayat alquran yang lain.
  2. Kalau tidak ditemukan maka tafsir kan dengan merujuk pada hadits hadits nabi yang berkaitan dengan ayat tersebut.
  3. Kalau tidak di temukan hadits nya. maka dengan pendapat nya para sahabat.
  4. Kalau tidak ada juga, maka lewat pendapat nya ulama tabiin, seperti imam mujahid, imam qotadah atau sayib ibn musayib. dll

Kalau tidak berangkat dari 4 usul ini, maka orang yang menafsirkan al quran tersebut dikatakan salah walaupun pendapat tafsir nya benar. Bahkan orang yang mengusai dan mengatehaui qoidah bahasa arab, usul fiqih, usul tafsir quran, asbabul nuzul, asbabul wurut hadits, mustolahul quran, mustolah alhadits, istimbat ahkami quran. Dan cabang ilmu lain nya. Kalau tidak ngambil dari ulama mutaqodimin tafsir nya tetep salah atau tidak dibenarkan. Sebagai contoh kitab sofwatu tafsir yang merupakan kitab tafsir alquran ulama kontemporer, beliau sang mualif kitab sofwatu tafsir tidak mentafsirkan alqur’an dengan pendapat beliau sendiri. Tapi beliau merujuk dan menukil pendapat para ahlu tafsir terdahulu dan di kumpulkan dalam kitab beliau. Dari hal ini, hendak nya kita berhati-hati dalam menafsirkan ayat alqur’an. Juga berhati hati dalam mengambil ilmu. Ketahuilah dulu dari mana dan siapa yang mantafsirkan suatu ayat, baru kita ikuti pendapat nya. Inti nya jangan lepas dari pemahaman para ulama mutaqodimin yang tafsir nya telah teruji. Dan perlu kita ketahui. Beliau para mufasirin mantafsirkan alquran bukan dengan pendapat beliau sendiri. Tapi merujuk kepada hadist, juga ayat al qur’an yang lain. Untuk lebih jelas nya. Silahkan simak pemaparan yang di sampaikan oleh Al Habib Ustadz Alwi Bin Ali Alhabsyi. Berikut ini :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *