Mahalnya Persatuan

Hadirin yang dirahmati Allah, kita saat ini hidup di zaman dimana fitnah sudah menjadi makanan sehari hari nya, kebohongan menjadi hidangan nya, sengketa menjadi sajian nya dan adu domba menjadi santapan nya. Seorang Muslim mencaci saudara muslim nya, seorang Ulama menjatuhkan ulama lainnya, seorang pemimpin menghujat pemimpin saingan nya, hal itu menghiasi hari hari kita.

Dan kondisi seperti ini diperparah dengan era media sosial, yang mana setiap orang bisa berbicara dengan semaunya, setiap orang bisa menyebarkan apa saja yang dia suka, hingga umat menjadi korban tarik menarik pengaruh dan opini, masing masing pihak akan berusaha membawa umat untuk mengikuti jalan nya.

Begitu juga dari kubu sebelah nya, hingga tensi dan ritme persaingan ini semakin lama semakin meningkat, sampai tidak peduli lagi dengan etika dan dosa. yang penting dan paling utama adalah bagaimana umat itu bisa membenci dan menjauhi kubu tandingan nya, kemudian mengikuti pilihan atau kelompok nya.

Hadirin yang dirahmati Allah, mau sampai kapan kondisi semacam ini akan berjalan?, bukankah kita semua ini sebenarnya tahu dan mengerti bahwa perpecahan itu adalah sebuah adzab? Bahwa persatuan itu rahmat? Jika semua sudah mengerti kenapa tidak mengusahakan nya?

Bukankah mereka semua Saudara kita Sesama Muslim? Yang hanya dipisahkan oleh Baju Ormas, Partai, Kepentingan dll yang kesemuanya sifatnya duniawi? Semua Baju itu adalah hanya sebuah bungkus, yang jika dibuka isinya adalah sama yaitu Islam.

Yang jika dibuka ada Nama Allah SWT disitu, dan ada nama Nabi Muhammad SAW disitu, yang nilainya tidak bisa ditukar dengan apapun, meski misalnya emas sebesar bumi dan langit inipun masih tidak sebanding dengan Kalimat Thayibah “LA ILAHA ILLALLAH  MUHAMMAD RASULULLAH “.

Lalu, kenapa begitu berat kita ini untuk bisa memahami karakter Saudara Muslim kita yang lain? Apa karena kita sudah merasa besar, hingga merasa bangga dengan dirinya sendiri.

Jika seperti itu, maka mirip dengan sifat orang Musyrik yang disebut oleh Allah SWT dalam Surat Ar Rum 31 : “Dan janganlah kalian menjadi seperti orang-orang musyrik, yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka dalam keadaan bergolong-golong. Setiap golongan bangga dengan apa yang ada pada mereka.” (ar-Rum: 31—32)”

Juga pada Surat yang lain Allah SWT memerintahkan jangan sampai kita bercerai-berai  : “Dia (Allah) telah mensyariat kan kepada kalian agama yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nabi Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad), dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa, dan ‘Isa, yaitu tegakkanlah oleh kalian agama ini dan janganlah kalian bercerai-berai di dalamnya.”(asy–Syura: 13)”

Hadirin yang dirahmati Allah, memang persatuan bukanlah hal yang mudah, dan perpecahan adalah sebuah keniscayaan, bahkan Nabi Muhammad SAW sudah mengabarkan kepada kita, bahwa Umat Beliau SAW akan terpecah belah, sebagaimana telah disebutkan dalam riwayat Imam Muslim  : “dari Tsauban berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Sesungguhnya Allah menghimpun bumi untukku lalu aku melihat timur dan baratnya dan sesungguhnya kekuasaan ummatku akan mencapai yang dihimpunkan untukku, aku diberi dua harta simpanan; merah dan putih, dan sesungguhnya aku meminta Rabbku untuk ummatku agar tidak dibinasakan oleh kekeringan menyeluruh, agar Ia tidak memberi kuasa musuh untuk menguasai mereka selain diri mereka sendiri lalu menyerang perkumpulan mereka, dan sesungguhnya Rabbku berfirman: ‘Hai Muhammad, sesungguhnya Aku bila menentukan takdir tidak bisa dirubah, sesungguhnya Aku memberikan untuk umatmu agar tidak dibinasakan oleh kekeringan menyeluruh, Aku tidak memberi kuasa musuh untuk menyerang mereka selain diri mereka sendiri lalu mereka menyerang perkumpulan mereka meski mereka dikepung dari segala penjurunya hingga sebagaian dari mereka membinasakan sebagaian lainnya dan saling menawan satu sama lain”

Dalam Hadist yang lain disebutkan , “telah mengkhabarkan kepadaku Amir bin Sa’ad dar ayahnya, pada suatu hari, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam pulang dari tempat tinggi hingga saat beliau melintasi masjid bani Mu’awiyah, beliau masuk lalu shalat dua rakaat, kami shalat bersama beliau. Beliau berdoa lama sekali kepada Rabbnya, setelah itu beliau menemui kami, nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Aku meminta tiga (hal) pada Rabbku, Ia mengabulkan dua (hal) dan menolakku satu (hal). Aku meminta Rabbku agar tidak membinasakan ummatku dengan kekeringan, Ia mengabulkannya untukku, aku memintaNya agar tidak membinasakan ummatku dengan banjir, Ia mengabulkannya untukku dan aku memintaNya agar tidak membuat penyerangan diantara sesama mereka lalu Allah menolaknya”  (Hadist Riwayat Imam Muslim)

Namun yang perlu kita perhatikan juga, jangan sampai kita ini turut andil dalam perpecahan umat, ikut berperan dalam adu domba sesama muslim dan ambil bagian dalam fitnah yang sedang berlangsung

Dalam kondisi situasi yang penuh fitnah semacam ini jalan yang paling aman bagi kita adalah diam, tidak ikut campur, selalu berdoa untuk keselamatan dan persatuan umat dan selalu menganjurkan mencintai umat Nabi Muhammad SAW apapun faham dan golongan nya, bukan malah ikut menganjurkan dan mengajak kepada kebencian untuk kelompok lainnya

Maka jangan sampai dengan mudahnya kita menyebut kafir, musyrik, sesat, munafik, zindiq dan hal-hal yang menyakitkan lain nya kepada saudara kita sesama muslim, dan sebaliknya kita juga jangan mudah menyebut radikal, teroris, intoleran dan hal-hal yang membuat perpecahan kepada saudara kita sesama muslim

Ketahuilah, bahwa jika seseorang itu sudah Islam, apalagi dia juga menjalankan kewajiban nya, seperti sholat, puasa dan amal ibadah lainnya, meski mungkin masih jauh dari yang diperintahkan, maka orang itu sebenarnya punya kontak dan hubungan kepada Allah SWT dan RasulNyA, dan kontak itu meski kecil dan lemah sangat dihargai oleh Allah SWT dan RasulNyA, dan kita malah menganggap remeh kontak itu, bahkan kita berusaha memotong kontak dan hubungan dia kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW dengan tuduhan-tuduhan tadi.

Jangan sampai kita kotori hati, tangan dan lisan kita dengan memperbesar konflik antar sesama muslim, karena Nabi Muhammad SAW pun juga sudah memberi rambu-rambu dan rumus jika kita mengalami kondisi seperti saat ini, dalam Sahih Bukhori disebutkan : “Abu Hurairah menuturkan; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Akan terjadi fitnah, ketika itu yang duduk lebih baik daripada yang berdiri, yang berdiri lebih baik daripada yang berjalan, yang berjalan lebih baik daripada yang berlari, barangsiapa berusaha menghadapi fitnah itu, justru fitnah itu akan mempengaruhinya, maka barangsiapa mendapat tempat berlindung atau tempat pertahanan, hendaklah ia berlindung diri di tempat itu”

Dari Hadist itu jelas sekali bahwa jalan paling aman bagi kita adalah menghindari fitnah yang ada, jika ada sengketa dari dua kelompok yang sama-sama muslim, maka jika kita tidak bisa mengusahakan persatuan bagi semuanya, lebih baik kita diam dan berlepas diri.

Hadirin yang dirahmati Allah, jika kita tahu bahwa persatuan itu mahal nilainya, maka jika umat ini sudah mengarah kepada persatuan, sudah bisa duduk bersama, berjuang bersama tanpa melihat faham dan kelompok nya, maka jangan kita rusak lagi kondisi yang sudah baik itu, justru kita jaga dan pertahankan yang demikian itu. jika ada hal yang masih kurang baik maka adakan perbaikan secara perlahan, bukan malah dirobohkan bangunan yang sudah mapan.

Semoga disatukan umat Rasulullah SAW ini dalam satu bendera LA ILAHA ILLALLAH MUHAMMAD RASULULLAH, disatukan hati nya, diampuni kesalahan nya, dimenangkan perjuangan nya, dihapuskan sengketa antar umat Islam, dan semoga dihancurkan musuh-musuh Islam, dilemahkan barisan mereka dan semoga Allah SWT selalu menolong dan meridhoi perjuangan kita.

Allahummarham Umat Sayidina Muhammad, Allahummaslih Umat Sayidina Muhammad, Waj’alna min khiyari Umat Sayidina Muhammad

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.