PENTING!!! Waspadai Dua Hal Dengan Dua Hal ini!

Mewaspadai Dua Hal Dengan Dua Hal Lainnya

“Ambisi di dalam memiliki harta merupakan bencana dalam agama,sementara  tamak terhadap kedudukan merupakan kebinasaan di dalam urusan agama sekaligus harta. “ (Imam Abdullah Al-Haddad)

  Ada dua hal yang bisa diambil pelajaran dari ungkapan di atas : pertama adalah mewaspadai bahaya harta. Bahayanya terletak pada munculnya sifat tamak/ketamakan dan ambisinya untuk menjadi orang kaya tanpa mengukur kemampuannya. Yang pada akhirnya, seseorang bisa menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya. Sekalipun untuk itu ia menipu, mengkorupsi dana. Shalat pun  ia korbankan; pegawainya tak diperkenankan shalat dengan dalih meminimalisir kerugian akibat waktu yang ‘terbuang’ untuk shalat. Jelas, ambisi harta menyeret kepada kerusakan agama. Yang lebih membuat bulu kuduk kita merinding adalah ada beberapa kalangan pengusaha yang ingin mendapatkan pesanan yang banyak, calon pembelinya, disuguhi pelacur, diservice, mulai hotel plus penghiburnya dan lain sebagainya. Kedua, yang lebih lebih berbahaya ialah mewaspadai bahaya ambisi atas jabatan/kehormatan. Ambisi dalam hal ini tidak saja menyeret kebinasaan pada agama tapi juga hartanya. Contoh, demi mencari popularitas, ia gelontorkan milyaran rupiah, menyuap, menghutang, menjual harta.  Dalam kasus kampanye misalnya, demi meraup simpati massa, seorang Calon Legislatif/calon Bupati walikota atau Gubernur mencari biduan, penyayi top untuk menghibur massa. Sejatinya, kita sebagai hamba Allah hendaklah hidup dalam keadaan ridla dengan apa yang telah Allah berikan, apa itu kedudukan maupun kekayaan. Bahasa agamanya adalah Qona`ah. Nabi shollallahu alaihi wasallam bersabda : القَناَعَةُ مَالٌ لاَ يَنْفَدُ “Qona’ah (sikap lapang dada) adalah kekayaan yang tidak akan berakhir.” Coba lihat, betapa nikmat tidurnya abang tukang becak di atas becaknya yang biasa ia ayunkan mencari sesuap nasi dengan seseorang selebritis yang tidak bisa terlelap tidur sebelum meneggak obat tidur, atau bahkan tidak bisa menikmati tidur. Ternyata, harta yang banyak tidak menjamin kebahagiaan. Banyak orang yang dulunya dikawal kini dikawal dengan keadaan terborgol. Rasulullah SAW. bersabda : ما ذِئْباَنِ ضاَرِياَنِ أُرْسِلاَ فِى زَرِيْبَةِ غَنَمٍ بِأَسْرَعِ إِرْشاَدًا مِنْ حُبِّ الشَّرَفِ وَالماَلِ فِى دِيْنِ الرَّجُلِ المُسْلِمِ “Tidaklah dua ekor Serigala dilepas di antara gerombolan kambing-kambing ternak itu lebih ganas daripada kecintaan seseorang kepada kedudukan dan harta yang akan meruskan agama seseorang.” Cinta kedudukan dan cinta harta jika dilepas dalam hati seseorang, itu lebih memorak-porandakan agama seseorang jika kedua sifat masuk dalam hati seseorang melebihi keganasan dua Serigala kelaparan yang dilepas ada di kandang kambing. حُبُّ المَالِ وَالجاَهِ يُنْبِتاَنِ النِّفاَقَ فِى القَلْبِ كَماَ ينُبِْتُ المَاءُ البَقْلَ. Rasulullah SAW. bersabda: “Cinta harta dan kedudukan akan menumbuhkan penyakit kemunafikan dalam hati, sebagaimana genangan air itu akan menumbuhkan rumput-rumput.” “Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan. Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan.” Petikan terjemahan ayat di atas mengingatkan kepada siapa saja yang keinginannya untuk mencari kehidupan dunia beserta kemegahannya dengan cara-cara yang tidak baik, maka Allah akan memenuhi keinginanya. Seolah-olah mereka memperoleh anugerah namun di akhirat kelak tidak memperoleh tempat selain neraka. Semua yang ia usahakan untuk kehidupan akhiratnya menjadi sia-sia belaka. Walaupun dia pernah sedekah, nilai sedekahnya nihil karena kedzalimannya itu. Maka, jangan kita kagum kepada mereka (Qs. At-Taubah: 55 & Ali Imran: 178). Dalam firman-Nya yang lain : “Negeri akhirat itu, kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (Qs. Al-Qashash: 83). Ayat tersebut kebalikan dari dua sifat di atas tadi yaitu pertama, tidak ambisi kedudukan (la yuriduna ‘uluwan fil ardhi). Kedua, la yuriduna fasada, orang yang tidak menghendaki maksiat di atas bumi, tidak menghendaki kedzaliman dan kesyirikan. Surga disiapkan oleh Allah bagi orang yang tidak gila kehormatan dan tidak berbuat kerusakan. Kerusakan banyak macamnya: kesyirikan, kekufuran, kemaksiatan kepada Allah, menafsirkan Al-Qur’an dengan otaknya sendiri seperti yang dilakukan oleh Gerombolan Pengacau Agama: Jaringan Islam Liberal (JIL). Mereka memutar balikkan ayat rahmatan lil `alamin untuk memperkenankan perkara-perkara prinsip seputar ketuhanan, kenabian dan akidah. Kedua hal tersebut menjadi obat penawar guna menghindari sergapan rasa tamak yang mengintai tiap saat. Dengan sikap Qana`ah, tidak berambisi dan membiasakan diri menerima ketentuan Allah, sedikir atau banyak, derajat menjadi terangkat dan agama menjadi selamat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *