Refleksi Kemerdekaan : Renungan 2016 ( II )

Oleh : Umar Zein

Ada sesuatu yang lain jika kita masuk dibulan Agustus, nuansa kepahlawanan dan perjuangan sangat terasa jika di bulan ini, lagu-lagu perjuangan sering terdengar, bendera merah putih banyak terlihat berkibar dimana-mana. Paling tidak, kita jadi teringat kisah perjuangan para Pahlawan yang dengan susah payah, mengorbankan jiwa dan raga merebut kemerdekaan.

Bagi kita, generasi penerus yang diwarisi  Negri yang makmur ini, sebenarnya punya perjuangan juga. Perjuangan kita adalah membangun dan mengelola baik dhohir dan batin nya. Membangun dan mengelola secara dhohir berupa pembangunan fisik, peningkatan ekonomi, pengelolaan aset-aset dan sumber daya alam dll. Sedang pembangunan batin berupa peningkatan pendidikan, akhlaq yang mulia, menjaga toleransi, kerukunan dan keberagaman antar agama, suku dan kebudayaan dll.

Tapi jika melihat perkembangan dan kenyataan nya yang ada justru kebalikan nya. Pembangunan mental dan Spiritual semakin terpuruk, disatu sisi ada yang bergelimang dengan kekayaan yang melimpah, disisi lain ada yang sampai hidup dibawah garis kemiskinan. Disatu sisi pemerintah menggiatkan pemasukan dari sumber dana rakyat, disisi lain pelayanan dan kesejahteraan rakyat masih sangat kurang.

Yang lebih memperhatikan lagi, rasa persatuan dan kesatuan rakyat semakin hilang, kerukunan dan keramahan yang sebenarnya menjadi jati diri rakyat Negri ini sirna, bentrok antar warga, antar kelurahan, antar desa, antar suku sempat menghiasi berita di berbagai media, ada apa gerangan dengan bangsa ini?. Belum lagi jika menengok generasi anak-anak muda nya, putra putri nya, kriminalitasnya dsb dsb.

Bagaimana perasaan para Pejuang itu jika melihat Negri yang dicintai nya, diperjuangkan mati-matian ini, diwariskan pada generasi yang amburadul macam kita?  Generasi yang ribut melulu sesama anak bangsa sendiri, generasi yang mendzolimi anak-anak bangsa nya sendiri, generasi yang memakan uang anak bangsa nya sendiri, generasi yang memperkosa bocah nya sendiri?  Apakah mereka tidak menangis darah melihat hal itu?

Teriakan yang disuarakan Pangeran Diponegoro, Imam Bonjol, Sultan Hasanuddin, Bung Tomo, sama dengan yang kita teriakan, teriakan mereka adalah Takbir!!!. Tapi kesan yang muncul dari Takbir yang mereka ucapkan “beda” dengan takbir kita. Bedanya terletak pada takbir mereka yang mampu menggetarkan nyali Penjajah dan mampu menyatukan barisan pejuang. Tapi takbir kita, justru malah membuat tertawa musuh dan membuat lari sesama saudara muslim kita.

Negri ini rindu dengan sebuah masa, dimana pemimpin mereka adalah Ulama-ulama yang ikhlas, dimana Sultan nya patuh kepada Ulama-ulama yang ikhlas, dimana rakyat nya takdzim kepada Ulama-ulama ikhlas, hingga Negri ini diberkahi dari langit dan dari bumi.

Masa dimana Media nya jadi corong perjuangan bukan perusakan. Media nya sebagai penerus lisan ulama bukan Pengusaha. Media nya sebagai alat pemersatu rakyat bukan adu domba umat. Media nya sebagai pencerah bukan pemecah belah, hingga rakyat selalu hidup dalam ketentraman dan ketenangan, bukan dalam sengketa dan provokasi.

Semoga muncul ditengah-tengah kita, Ulama-ulama pewaris Para Nabi, Ulama-ulama yang bersih hatinya, ikhlas jiwa nya, yang selalu siap membimbing rakyat dengan penuh rahmat dan kasih sayang….

Solo, 2 Agustus 2016

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.