RIHLAH DA’WAH MJA DI KRAJAN

Rihlah da’wah MJA episode kali ini berada di Masjid Al Hikmah, Desa Krajan. Desa tersebut merupakan salah satu desa di Kecamatan Weru Kabupaten Sukoharjo. Desa ini termasuk desa pinggiran dari Kabupaten Sukoharjo, dekat dengan Sungai Bengawan Solo. Karena dekat dengan Sungai Bengawan Solo maka desa ini termasuk kategori rawan terjadi genangan air bahkan banjir. Menurut penuturan warga setempat yaitu Bapak Sokirin, paling tidak selama setahun ada tiga kali banjir melanda Desa Krajan. Sekitar sembilan tahun yang lalu tepatnya di tahun 2007 terjadi banjir besar yang mengakibatkan warga mengungsi ke Balai Desa Laban. Desa ini dekat juga dengan Kota Surakarta, dapat ditempuh kurang lebih 10 s/d 15 menit dari pusat Kota Surakarta melalui jembatan Mojo. Sebuah desa tentunya memiliki sejarah. Berdasarkan penuturan dari pinisepuh yang sekarang masih hidup mengatakan bahwa nama Desa Krajan sekitar tahun 1926 dikomplek / di Desa yang terdiri dari nama - nama dukuh yang berbeda-beda, diantaranya ada nama dukuh krajan. Para pinisepuh sekitar tahun 1926 bermusyawarah dan sepakat memberi nama dengan cara memilih diantara banyak nama dukuh/ dusun , tapi pinisepuh jaman dahulu nama krajan sebagai nama desa / nama Kelurahan dengan tujuan Krajan mempunyai arti Gemah Ripah lohjinawi Toto Tentrem Karto Raharjo, maka nama Krajan Sebutan sampai Sekarang.1 Penduduk di sekitar tempat Rihlah Dakwah MJA (di Masjid Al Hikmah) kurang lebih berjumlah 400 penduduk dengan 83 kepala keluarga. Sebagian besar masyarakat setempat perekonomiannya menengah kebawah. Mereka banyak yang bermata pencaharian sebagai buruh. Sebagian kecil, tidak sampai 25 penduduk mempunyai sawah yang kemudian mereka bekerja sebagai petani. Masjid Al Hikmah didirikan pada tahun 2014. Masjid ini dirasa perlu didirikan karena masyarakat membutuhkan wadah untuk kegiatan beribadah ala ahlussunnah wal jama’ah. Karena sebelumnya ada masjid di sekitarnya yang tidak beribadah ala ahlussunah wal jama’ah. Sejalan dengan hal tersebut dalam rencana penbangunan daerah setempat, Desa Krajan rencananya akan didirikan langgar atau musholla. Tanah yang semula direncanakan untuk pendirian langgar atau musholla tersebut merupakan tanah milik pemerintah desa yang luasnya kurang lebih 250 m2. Akan tetapi di tanah tersebut digunakan untuk mendirikan Polindes (Pondok Bersalin Desa). Akhirnya langgar atau musholla yang rencana didirikan di desa tersebut dipindah rencana lokasinya di tanah yang sekarang didirikan Masjid Al Hikmah. Tanah yang sekarang didirikan masjid tersebut pada tahun 2012 telah disetujui peruntukannya yang dulu merupakan sawah garapan milik pemerintah desa Pembangunan Masjid Al Hikmah diprakarsai oleh tokoh masyarakat setempat yaitu Bapak Sokirin. Pembangunan tersebut mendapatkan paket dana hibah 100% dari Malaysia, yaitu dari Ibu Hj. Khodijah. Bapak Sokirin beserta masyarakat setempat berhasil mendapatkan dana tersebut atas bantuan pula dari Habib Hasan Assegaf (Solo) yang kemudian mencari bantuan juga dari Habib Abdurrahman Al Habsyi (Jakarta). Dan Habib Abdurrahman Al Habsyi mencari bantuan ke Malaysia dan akhirnya mendapatkan dana tersebut. Pembangunan masjid berlangsung selama 4 bulan. Lahan untuk didirikannya masjid itu butuh perataan sehingga diratakan dan ditinggikan (dipondasi) sampai dengan 2,5 meter oleh masyarakat setempat. Selanjutnya apresiasi dari masyarakat setempat mengenai program rihlah da’wah ini adalah dapat membuka inspirasi bagi mereka dan dalam pendakwahannya enak, Acara rihlah dakwah ini mendapat respon baik dari masyarakat. Ustadz-ustadz yang mengajar sudah bagus, penjelasannya gamblang sehingga masyarakat tidak perlu bertanya lagi./red

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *