Media Sosial, “Musibah” Atau “Anugerah”..?

Diera yang modern ini, semua orang tentu tidak terlepas dengan yang namanya smartphone dan media sosial. Sebagian orang beranggapan seolah itu semua sudah merupakan tuntutan zaman. Gadget sekarang sudah menjadi barang yang murah dan mudah di dapat, banyak sekali orang-orang berkomunikasi dengan menggunakan media sosial seperti path, facebook, twiter, instagram, bbm, dan lain-lain. Tapi apakah kita memang sudah benar-benar tau manfaat positif dan manfaat negative dari penggunaan smartphone atau media sosial ini..? Memang benar, lewat media smartphone ini, kita bisa memiliki banyak teman, entah teman yang sudah lama terjalin atau teman baru yang kita tidak tau dia siapa dan darimana asal-usulnya atau yang sering kita sebut dengan teman virtual di media social. Dari banyaknya teman itu seharusnya hidup kita akan terasa ramai. Tapi sebetulnya tidak, yang terjadi adalah sebaliknya kita sering merasa sepi. Kita berbicara dengan mereka setiap hari di media social. Namun tak satupun yang mengenal diri kita dengan baik.

Mungkin diantara kita pernah ada yang mengalami beberapa kejadian yang akan kami contohkan berikut. Mungkin kita pernah mengalami suatu pengalaman yang cukup membuat hati kita miris mengingatnya. Ketika kita bertemu dengan teman lama yang sudah bertahun-tahun sudah tidak bertemu, dan ada kesempatan untuk bisa berkumpul kembali dan saling bertukar cerita dengan teman lama adalah hal yang pasti kita nantikan. Namun apa yang terjadi..? Saat bertemu, semua di luar dugaan, pertemuan yang seharusnya asyik dengan suasana obrolan yang renyah malah terasa sangat garing dan membosankan. Mungkin sampai merasa kehadiran kita tidak ada gunanya saat itu, teman teman kita malah sibuk sendiri dengan gadget dan sosial medianya. Pengalaman kedua tentang pengabaian seseorang karena sibuk dengan sosial media, yaitu saat ada seorang yang sedang mengalami kecelakaan. Ketika seseorang yang sedang sakit parah bahkan ada yang sampai sedang bertaruh antara hidup dan mati, apa yang kita lihat..? Yaa, akan sedikit sekali yang akan menolong dan lebih banyak yang mengabadikannya lewat gadgetnya masing-masing. Entah apa maksud mereka, tapi ini jelas ada sesuatu yang salah. Entah apa alasan seseorang bisa lebih peduli dengan sosial media dibanding dengan nyawa saudaranya sendiri!. Kita merasa bahwa kehadiran manusia di dunia ini tidak lebih berharga dari gadget. Tapi nampaknya kita tidak bisa berbuat banyak dan berusaha untuk berpikir positif di balik sikap mereka yang “Always On”.

Mari kita lihat bersama. Untuk contoh pertama diatas tadi. Masalah yang kita alami ini adalah adanya perbedaan antara menatap wajah dan mata lawan bicara kita secara langsung, atau hanya melihat nama orang di layar gadget kita. Ada baiknya jika kita mencoba melangkah mundur dan membuka mata kita kembali. Melihat sekeliling dan menyadari bahwa media yang kita sebut social ini memang segalanya. Namun sadarkah kita, ketika kita membuka computer atau gadget smartphone kita, saat itulah kita sudah menutup pintu kehidupan kita sebenarnya. Sadarkah kita, bahwa teknologi yang kita punya ini hanyalah suatu ilusi. Komunitas, persahabatan, rasa kebersamaan, semuanya. Ketika kita beranjak dari perangkat khayalan ini, kita akan tersadar dan melihat dunia yang membingungkan.

Kita akan melihat dunia dimana kita diperbudak oleh teknologi yang kita ciptakan sendiri. Dunia yang dipenuhi dengan kepentingan pribadi, pencitraan, promosi diri. Sebuah dunia dimana kita memberikan bagian terbaik kita tanpa mengggunakan perasaan. Kita merasa paling berbahagia ketika berbagi pengalaman. Meng-uplod segala sesuatu yang tengah kita lakukan di media social. Menyebarkan informasi tanpa kita tau entah benar entah salah. Pertanyaanya, apakah yang kita rasakan itu akan sama ketika tidak ada orang lain disekitar kita.?

Kemudian untuk contoh yang kedua. Tingginya penggunaan sosial media apakah mampu menjamin naiknya kepedulian sosial seseorang terhadap sesama? Contoh kedua dari pengalaman diatas menjadi bukti bahwa penggunaan sosial media tidak serta merta diikuti oleh semakin meningkatnya kepedulian sosial terhadap sesama. Penggunaan sosial media ternyata mampu membuat penggunanya lama-kelamaan cendrung memiliki sikap antisosial dengan orang-orang di sekitarnya. Sikap antisosial adalah sikap seseorang yang tidak mau peduli dengan hal-hal yang berhubungan dengan lingkungan dan orang-orang di sekitarnya. Sikap antisosial ditunjukkan seseorang dari tindakannya yang tidak segera menolong orang lain yang sedang mengalami sekarat. Jika alasannya agar orang lain juga ikut tauu, pertanyaanya sekarang adalah apakah si korban membutuhkan itu dan apakah pantas kita menyebarkan foto korban yang tengah sekarat atau luka parah ke media sosial..?

Sikap antisosial yang lain seperti tidak mau berbaur, membatasi diri dengan urusan yang berhubungan dengan kemanusiaan atau kemasyarakatan. Orang yang bersikap antisosial suka menyendiri, tidak suka keramaian, tidak suka berkumpul dengan orang lain dan cendrung tertutup. Orang-orang antisosial memiliki cara tersendiri untuk bisa menghibur diri mereka. Orang yang bersikap antisosial justru sangat haus akan perhatian sosial, maka dari itu biasanya orang yang antisosial di dunia nyata akan mengupayakan bagaimana caranya untuk bisa mendapatkan perhatian dari orang-orang yang ada di dunia maya salah satu caranya adalah menggunakan sosial media. Setiap menit bahkan detik, selalu saja “mengabarkan” info terkini mengenai dirinya.

Lalu bagaimana media sosial atau sosial media justru membuat orang menjadi bersikap antisocial. Prtama, penggunaan media sosial untuk hal-hal yang tidak penting akan cendrung membuat seseorang bersifat individualistik dan cendrung tertutup dengan kehidupan di lingkungannya. Pengguna sosial media menjadi kehilangan perhatiannya terhadap perubahan lingkungan di sekitarnya, dan tidak tanggap dengan perubahan tersebut.

Kedua, Media sosial dianggap sebagai alat yang mampu menjanjikan popularitas dan penghargaan diri bagi penggunanya, mereka menganggap banyaknya orang yang menglike status, mengomentari status atau foto-foto mereka adalah suatu bentuk penghargaan terhadap diri mereka sendiri. Dengan demikian orang-orang di dunia maya merasa lebih mudah mendapatkan perhatian dari orang lain di sosial media dibandingkan dengan orang-orang yang ada di sekitar mereka.

Ketiga, Pengguna media sosial tahan berjam-jam melihat gadget dan mengecek akun mereka di bandingkan harus berlama-lama berdiskusi dengan teman, orang lain bahkan keluarganya sendiri. Keempat, Pengguna media sosial menganggap bahwa orang-orang yang ada di dunia maya lebih berpengaruh dalam kehidupan mereka di bandingkan dengan orang-orang yang ada di dunia nyata.

Kelima, Tergila-gila dengan sosial media membuat komunikasi dengan orang di sekitar seperti keluarga dan sahabat malah menjadi renggang, orang antisosial biasanya sulit menemukan kehangatan dan keakraban dalam hubungannya dengan teman atau keluarga

Keenam, Pengguna sosial media memiliki “nilai sosial” yang tinggi di dunia maya, tapi antisosial untuk dunia nyata mereka. Betapa tidak, saat seseorang membuka akun mereka dan melihat status dari teman-teman mereka, pengguna sosial media langsung menunjukkan kepeduliannya dengan menglike, mengomentari, bahkan menghujatpun bisa dianggap sebagai bentuk kepedulian. Sebagai perbandingannya, saat seseorang mendengar bahwa tetangganya sedang ditimpa musibah, orang-orang “berjiwa sosial” yang eksis di dunia maya justru bersikap acuh tah acuh.

Ketuju, Sikap sosial yang ditunjukkan oleh pengguna sosial media adalah sikap semu sosial, disebut semu sosial karena yang mereka pedulikan adalah hal-hal yang sebenarnya tidak terlalu penting untuk diperdulikan, masih banyak hal di dunia nyata yang membutuhkan kepedulian nyata dari kita untuk membantu sesama.

Melalui media social secara tidak sadar sebenarnya kita “dididik” agar selalu membanggakan diri dan mengharapkan pujian. Media sosial telah menjadi tempat pelarian kita. Jika sudah begini, maka sebenarnya kita sudah terasing secara sosial, namun kita pura-pura tidak menyadarinya. Kita merangkai kata update status dimedia social hingga terlihat hidup kita indah. Padahal kita tidak tahu apakah ada diantara temen-teman virtual kita di media sosial itu yang peduli. Sendirian/menyendiri bukanlah menjadi masalah. Bila kita membaca buku, melukis atau melakukan latihan tertentu, maka dengan sendirinya kita akan menjadi produktif, dan bukan hanya menjadi pelengkap di media social saja. Dan karena prestasi itulah, kita menjadi sadar sepenuhnya untuk bisa memanfaatkan waktu sebaik-baiknya.

Terlepas dari baik dan buruknya media sosial, kita tidak bisa melimpahkan kesalahan mutlak ke sosial media, karena sosial media tidak berarti apa-apa tanpa ada penggunanya. Semua tergantung dari bagaimana kita sebagai pengguna sosial media memanfaatkan kemudahan akses komunikasi yang ada untuk peduli terhadap orang-orang yang ada di dekat ataupun yang berada jauh dari kita. Kita terlahir sebagai makhluk sosial, kita tidak bisa hidup tanpa bantuan orang lain dan kita juga tidak bisa merasakan makna kehidupan yang telah dianugrahkan –NYA tanpa upaya membantu sesama. Jangan lah kita masuk dalam kehidupan yang hanya mengikuti publisitas yang berlebihan. Berikan orang-orang sekitarmu yang sudah ada secara nyata, cinta dan perhatian kita. Jauhkan keinginan untuk didengar dan diakui. Keluarlah, lihatlah ke dunia nyata, dan tinggalkan semua itu. Allihkan perhatian dari telephone anda, dan matikan layarnya sekarang juga. Lalu jalanilah kehidupan secara nyata. Anda akan merasakan kebahagian jika kebahagian itu didapat dari upaya nyata anda.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.