LGBT, Sikap dan Solusinya

lgbtAkhir-akhir ini dimedia masa atau media social, kita melihat dan mendengar istilah LGBT. Apa sebenarnya LGBT ini..? Dan bagaimana kita seharusnya bersikap..?

LGBT adalah sebuah istilah yang sering dipakai untuk menyebut penyakit perilaku menyimpang atau yang sering disebut dengan Lesbian, Gay, Bisexsual, dan Transgender. Dalam perspektif Islam perilaku LGBT merupakan satu bentuk perilaku menyimpang. Allah Swt. dalam al-Qur’an surat al-A’raf ayat 80-84, misalnya, secara gamblang menjelaskan perbuatan atau perilaku homoseksual. Dalam tafsir al-Kasysyaf, Imam Zamakhsyari (w. 1143 M) menjelaskan makna “al-fahisyah” dalam QS. Al-A’raf ayat 80 tersebut sebagai tindak kejahatan yang melampaui batas akhir keburukan (al-sayyi’ah al-mutamadiyah fi l-qubhi). Sedangkan ayat: ata’tunal-fahisyata (mengapa kalian mengerjakan perbuatan faahisyah itu) adalah bentuk pertanyaan yang bersifat pengingkaran dan membawa konsekwensi yang sangat buruk. Sebab perbuatan fahisyah seperti itu tidak pernah dilakukan siapapun sebelum kaum Nabi Luth.

Sebagai penguat, dalam sebuah haditsnya Rasulullah SAW. bersabda, “Barang siapa mendapati orang yang melakukan perbuatan seperti kaum Nabi Luth, maka bunuhlah kedua-duanya, baik subjek maupun objeknya”. (HR. Tirmidzi). Ini merupakan posisi dan sikap tegas Rasulullah Saw., yang tentu saja bisa diadaptasikan dalam konteks hukum positif, misalnya, sebagaimana yang sudah dijelaskan secara jelas dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku seperti yang diungkap di awal.

Pakar kedokteran jiwa, dalam bukunya “Pendekatan Psikoreligi pada Homoseksual” (2009), mengungkapkan,“Kasus homoseksual tidak terjadi dengan sendirinya, melainkan melalui proses perkembangan psikoseksual seseorang, terutama faktor pendidikan keluarga di rumah dan pergaulan sosial. Homoseksual dapat dicegah dan diubah orientasi seksualnya, sehingga seorang yang semula homoseksual dapat hidup wajar lagi (heteroseksual).” Bahkan dalam pandangan penulis buku itu , “Bagi mereka yang merasa dirinya terkena penyakit akut LGBT dapat berkonsultasi kepada psikiater yang berorientasi religi, agar dapat dicarikan jalan keluarnya sehingga dapat menjalani hidup ini dengan wajar dan sesuai akal sehat.”

Dalam berbagai penjelasan di atas sangat jelas bahwa upaya legalisasi dan penghalalan LGBT sebenarnya sebentuk perilaku yang kebablasan . Karena ekspresi tersebut (LGBT) bersumber dari iman yang lemah, melawan hakikat kodrat, pemaksaan kehendak, jiwa yang sakit, kelainan seksual, emosi yang tidak stabil, nalar yang buntu dan bertentangan dengan prinsip-prinsip moralitas. Sederhananya, LGBT merupakan kemungkaran dalam segala aspek seperti iman, jiwa, emosi, kelamin dan akal. Lebih jauh, perilaku LGBT sejatinya bertentangan dengan berbagai peraturan perundang-undangan di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan ajaran pokok agama—terutama Islam.

Sebagai penutup, alangkah bijaknya jika kita menyempatkan diri untuk merenungi sabda manusia teladan yang tak pernah lelah mengajak dan mengingatkan kita kepada jalan yang benar (al-haq), Nabi Muhammad Saw. Beliau Saw. pernah bersabda, “Sesungguhnya manusia jika melihat kemunkaran tapi tidak mengingkarinya, maka dikhawatirkan Allah akan menimpakan azab-Nya, yang juga akan menimpa mereka.“ (HR Abu Bawud, at-Tirmidzi, dan Ibn Majah).

Dari semua hiruk pikuk yang saat ini tengah terjadi mengenai LGBT, kita bisa menarik beberapa kesimpulan penting.

Pertama, Jelas bahwa secara agama LGBT ini sangat dilarang. Sebagaimana yang telah tersurat didalam kitab suci Al-Quran yang menjadi saksi bagaimana Allah membinasakan kaum Nabi Luth yang mana mereka menyalahi kodrat dan fitrah suci sebagai manusia.

Kedua, secara kesehatan perilaku LGBT ini sangat riskan /berisiko tinggi akan datangnya penyakit yang berbahaya dan mematikan. Baik kesehatan raga maupun jiwa. Seperti Rentan terkena virus HIV, sifilis, hepatitis, dan infeksi Chlamydia, bakteri yang masuk melalui lubang anal akan sangat mempengaruhi kedua pasangan homoseksual, virus ini bisa mengakibatkan berbagai macam penyakit yang sangat merugikan. Sangat memungkinkan terjadinya luka atau pembengkakan pada sistem pembuangan atau pendarahan, hal tersebut dikarenakan lubang anal yang semestinya difungsikan sebagai pembuangan kotoran beralih fungsi juga sebagai pelampiasan hawa nafsu dari yang semestinya terdapat pada wanita. Terluka dan terinfeksi, bahkan mengakibatkan nanah adalah resiko yang bisa mengancam pelakunya. Selain itu Efek yang selanjutnya ditimbulkan adalah perubahan perilaku, ketidakseimbangan perilaku ini disebabkan kejiwaan seorang gay atau pelaku homoseksual cenderung memberikan efek negatif pada sistem syaraf dan penurunan pada sistem kerja otak, akibatnya seorang gay akan lebih nyaman dengan penyelewengan yang ia lakukan meski ia menyadari bahwa hal tersebut adalah salah dan kurang berpikir realistis.

Ketiga, secara norma social masyarakat. Kita bangsa Indonesia notabene menganut budaya ketimuran yang kental akan sopan santun, dan keluhuran budi. Keluhuran budi hanya bisa tercapai jika seseorang itu jauh dari perilaku menyimpang yang tidak sesuai dengan kodratnya. Seperi LGBT ini. Fenomena LGBT bahkan juga mengikis dan menggugat keharmonisan hidup bermasyarakat. Dari sudut sosiologi pula,ia akan menyebabkan peningkatan gejala sosial dan maksiat hingga tidak dapat dikendalikan. Jika dilihat dari sisi psikologi, kebiasaan jelek ini akan mempengaruhi kejiwaan dan memberi efek yang sangat kuat pada syaraf. Sebagai akibatnya pelaku merasa dirinya bukan lelaki atau perempuan sejati, dan merasa khawatir terhadap identitas diri dan seksualitasnya. Pelaku merasa cenderung dengan orang yang sejenis dengannya. Hal ini juga bisa memberi efek terhadap akal, menyebabkan pelakunya menjadi pemurung. Seorang homoseks selalu merasa tidak puas dengan pelampiasan hawa nafsunya. Gejala ini juga bisa merusakkan institusi keluarga dan membunuh keturunan. Keluarga adalah unit dasar suatu masyarakat dan selanjutnya pembentukan sebuah bangsa dan negara. Namun dengan fenomena Lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT) yang menular ke seluruh masyarakat dunia, termasuk negara kita, ia memberi berbagai efek kepada institusi keluarga yang tradisi sifatnya. Kondisi ini tentunya akan mengakibatkan rasa kecewa di kalangan anggota keluarga yang lain. Dan juga berpotensi menimbulkan pertikaian sesama anggota keluarga dan kerabat.

Keempat, dalam Republik Indonesia ini, konstitusi kita, UUD 1945 juga memberikan batasan yang jelas dan tegas terhadap prinsip kebebasan tersebut. Pasal 28 (J) UUD 1945 ayat 2 menyebutkan: “Dalam menjalankan hak dan kebebasannya, setiap orang wajib tunduk kepada pembatasan yang ditetapkan dengan Undang-undang dengan maksud semata-mata untuk menjamin pengakuan serta penghormatan atas hak kebebasan orang lain dan untuk memenuhi tuntutan yang adil sesuai dengan pertimbangan moral, nilai-nilai agama, keamanan, dan ketertiban umum dalam suatu masyarakat demokratis.” Isi ayat tersebut sama dengan bunyi pasal 70 UU No. 39 Tahun 1999 Tentang HAM. Jadi, kebebasan di bumi pertiwi-Indonesia ini memang dibatasi. Batasnya pun disebutkan, yaitu aturan perundang-undangan yang berlaku, moral, nilai-nilai agama, keamanan, dan ketertiban umum. Karena itu, prinsip “kebebasan mutlak” dan “kebebasan absolut” atau dengan kata lain bebas sebebas bebasnya, tidak diakui di bumi nusantara ini. Begitu juga, di negara-negara lain, pembatasan-pembatasan terhadap prinsip kebebasan selalu diberikan batasan tertentu, sesuai dengan pertimbangan budaya dan moral masing-masing negara.

Terkahir, apa yang harus kita lakukan..? Yang tentu dan paling utama adalah pencegahan pertama, yakni membentengi diri kita dan keluarga dengan iman dan taqwa kepada Allah Ta’ala. Kedua, peran Ayah dan Ibu (orang Tua) dalam pembimbingan putra-putrinya sudah saatnya untuk terlibat 100%. Beralasan mengenai sibuknya pekerjaan akan justru membuat orang tua jauh dari anak. Dan tentu anda sudah tau, bagaimana karakter anak jika jauh dari perhatian orang tua..? Periksa gadget anak kita masing-masing. Taukah anda, kenapa sekarang anak bisa jadi lebih pintar dari orang tuanya..? Jawabanya hanya satu, karena gadget (hp smartphone). Beralasan mengganggu privasi anak kita dan lain sebagainya justru akan menjadi boomerang bagi kita nanti. Zaman sudah berbeda, orang tua yang terlalu longgar dengan putra-putrinya nantinya akan membuat kedodoran orang tua itu sendiri. Mengekangnya juga bukan pilihan yang bijak, Perhatian, Awasi, bimbing dan arahan, adalah yang mereka butuhkan.

Kemudian, bagaimana sikap kita..? Jika melihat antara manfaat dan madhorot yang terjadi, kita tidak mendukung tapi juga tegas menolak. Tentu menolak dengan menghadirkan solusi yang bijak. Yakni dengan menunjukkan Kepedulian dan Terapi Pengobatan kepada mereka yang telah terjangkit “penyakit” LGBT ini. Bagaimana wujud kepedulian itu.? Bukan dengan mendukung, tapi dengan terapi jiwa. Karena berdasarkan uraian diatas, para pakar kodekteran jiwa telah menerangkan bahwa LGBT ini bisa disembuhkan, baik melalui konsultasi kepada psikiater yang berorientasi religi (agama) agar dapat dicarikan jalan keluarnya. Dan hanya dengan agama-lah, semua problematika hidup bisa diatasi. Kemudian tidak berhenti disini, hal penting juga tidak bisa dilepaskan begitu saja kepada mereka yang sedang dalam proses berusaha untuk sembuh dari penyakit ini.

LGBT adalah termasuk jenis penyakit. Mendukungnya adalah sebuah keputusan yang tidak masuk nalar akal sehat dan nurani manusia. Menjauhinya juga malah justru menjadikan penyakit ini menjadi bom waktu yang sewaktu-waktu bisa sangat berbahaya bagi kelangsungan kehidupan manusia. Jika berdasarkan hukum direpubllik ini maka bagi yang mendukung turut mendapat hukum pidana (seperti yang dijelaskan dalam pasal 1, 2, 3 dan 4 UU No. 1/PNPS/1965 dan pasal 156a Kitab Undang-undang Hukum Pidana-KUHP) dan azab Allah Ta’ala yang mungkin bisa tiba-tiba di timpakan tanpa sepengetahuan manusia. Atau menjadi kaum yang membantu penyembuhan mereka dari penyakit berbahaya sekaligus meluruskan mereka dari jalan yang keliru sehingga kita semua, terutama kaum LGBT kembali ke jalan yang benar, lalu mendapat keberkahan yang sama dari Allah Subhanahu wata’ala. Wallahu’alam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.