Belajar dari Haul Solo

Hampir semua sudut Kota Solo mencicipi “rasa” itu. Mulai Penuhnya Hunian Hotel dari Kelas Bintang sampai Kelas Melati, Bahkan Kamar-kamar Rumah Warga sampai disulap Menjadi Hotel tiban. Berjubelnya Pembeli di Warung-warung, Toko-toko dan Kios. Padatnya jalur lalu lintas hingga Jalan Slamet Riyadi terpaksa harus dibagi menjadi 2 jalur. Sampai mondar mandirnya para tukang becak dan polisi cepek, hingga para pemungut sampah semua nya dapat “berkah” dari Even Tahunan Kota Solo ini.
Yang pasti, tak terhitung putaran uang hasil dari transaksi entah jual beli atau jasa yang beredar selama Even Haul ini. Dan tentunya semua orang yg terlibat dalam transaksi itu entah secara langsung atau tidak merasa sangat diuntungkan. Terlebih lagi Pemerintah Kota Solo yang tanpa promosi dan iklan sudah dapat mendatangkan puluhan ribu, bahkan bisa jadi ratusan ribu wisatawan dari luar kota, luar pulau bahkan luar negri.
Tapi yang lebih dari itu semua, ada hal yang membuat saya selalu bertanya-tanya, yaitu Antusiasme dari para tamu dari luar kota. Meski tidak sedikit biaya yang harus keluar, tapi tiap tahun bukan nya kapok, mereka justru mengajak teman dan family nya untuk ikut hadir
Saat saya melihat orang-orang itu rela tidur bertumpuk jadi satu, hanya dengan alas yang tipis, di outdoor dalam kondisi cuaca yang tergolong dingin. Bahkan banyak juga yang membawa anak-anak nya yang masih balita. (lihat gambar)
Sempat terlihat juga sepasang pasutri, yang kalo dilihat dari romantisme nya, bisa jadi belum lama menikah, atau paling tidak belum punya anak, karena biasanya mereka akan membawa serta anak-anak nya. Mereka berdua terlihat enjoy meski sang istri hanya beralaskan karpet, tidur dipangkuan sang suami (lihat gambar)
Mereka semua mungkin tidak ada kelebihan uang untuk menginap dihotel yang nyaman, juga tidak punya kenalan untuk dijadikan rumah inap sementara. Mereka cukup puas hanya tidur dijalan, dengan cuaca yang dingin dan sesekali hujan. Namun semua itu tampak tidak jadi masalah buat mereka.
Kemudian saya coba bandingkan di kondisi yang sama dengan orang-orang yang rela tidur mengantri saat ada pengenalan produk Hp terkenal yang terbaru, atau saat orang-orang yang tidak menghiraukan keselamatan jiwa nya berdesak-desakan hanya untuk mendapatkan Smartphone terkenal dengan harga murah, atau yang mirip dengan itu.
Apa yg membedakan mereka, dan apa persamaan nya? Mungkin jawaban Saya salah, tapi Saya menemukan 1 jawaban yang sama yaitu “cinta/keterkaitan hati”. Apa sebab mereka semua rela berbuat seperti itu? Untuk orang-orang yang gila gadget, barang-barang itu sudah jadi gaya hidup mereka, hingga masuk ke “hati”, yang tentunya layak untuk diperjuangkan.
Sedang orang-orang yang datang di acara Haul, mereka juga “cinta” terhadap Acara itu, sedang Cinta itu Buta, apapun yg mendera dirinya, yg mungkin jika kita “lihat” sangat menyiksa, tapi semua tak “terlihat” oleh mereka, semua tertutup oleh “cinta” (mahabbah)
Lalu, pikiran realistis Saya muncul kembali..
Bagaimana mereka bisa cinta, padahal tidak sedikit dari mereka ini adalah orang yang sangat awam, yang jika ditanya, siapa Habib Ali Habsyi (sohibul Haul)?
Maka bisa dipastikan mereka salah dalam menjawab, (saya pernah secara langsung melakukan riset dengan mewawancarai beberapa pendatang sebagai contoh saja). Padahal kita tahu semua, timbulnya cinta adalah dari ma’rifah/tahu secara detail.
Bagaimana mereka bisa datang dengan begitu antusias tanpa tahu ini Event siapa? Tidak mungkin mereka bersusah-susah, berkorban bukan hanya waktu dan biaya, tapi juga tenaga yang, bagi Saya org Solo nya sendiri saja cukup lelah mengikuti acara demi acara Haul ini.
Pasti ada sesuatu yang besar, yang bernilai lebih dari semua yang mereka keluarkan.
Dalam diri setiap muslim, sejatinya mereka punya “cahaya”, yaitu cahaya iman, setiap orang yang ada kalimat La ilaha illallah di dalam hatinya, dia memiliki “cahaya” itu, yaitu cahaya iman. Cahaya ini berbeda-beda tiap org, ada yang cahaya nya sangat kecil, dan beberapa org tertentu, memiliki cahaya iman yang sangat besar.
Nah, jika ada pertemuan yang dihadiri umat muslim dalam jumlah yang banyak, maka cahaya itu berkumpul, yang mana masing-masing membawa cahaya nya, ada yang sebesar lilin, seterang lampu dan ada yang bersinar seperti mercury. Saat cahaya itu menjadi satu, maka melebur dan rata, hingga orang yang hanya memiliki cahaya yang minim, jika dia dapat “merasa”, dia seakan memiliki cahaya yang sangat terang di dalam dirinya, dan tentunya “rasa” itu sangatlah nikmat dan tidak dapat digambarkan dengan apapun.
“Rasa”itulah yang mungkin mereka dapatkan, yang tidak pernah dapat meraka rasakan dan temukan dimanapun, kecuali di tempat2 atau Event2 sejenis. Dan mungkin “rasa” itu (salah satunya ) juga yang dirasakan oleh orang-orang yang Haji atau Umroh, hingga orang-orang “kecanduan” untuk kembali kesana lagi. Tentunya untuk kasus Haji/Umroh itu hanya sebagian faktor saja, sebab faktor pendukung lainnya sangat banyak.
Dan “rasa” itulah juga, kenapa bagi kita warga Solo, khusunya Pasar Kliwon, merasa ada yang hilang,saat Event Haul ini berakhir. Bukan karena selesainya acara, tapi karena kepulangan para tamu yang kurang lebih selama 2 hari sudah menghiasi pandangan mata kami. Selama kurang lebih 2 hari, kota kami seakan seperti Mekkah atau Madinah, yang dipenuhi oleh lalu lalang orang-orang barbaju taqwa putih, dengan peci putih dan sarung. Yang tentunya itu semua sangat berkesan pada suasana lingkungan kami. Maka, begitu para tamu itu lenyap, lenyap pula nuansa itu dan kembali seperti sebelumnya.
Tapi kemudian Saya mencoba realistis lagi.
Bagaimana dengan konser-konser, jumpa fans, atau reuni akbar yang Islami, dihadiri juga oleh ribuan umat Islam? Apa beda nya dengan itu? Apakah yang hadir diacara-acara tersebut juga merasa kenikmatan yang sama?
Nah, disitulah peran “pemantik”, jika pada acara konser muslim dan sejenisnya, cahaya yang dibawa oleh orang-orang yang datang tidak dinyalakan, jadi tentunya “hati” mereka tidak dapat merasakan cahaya itu, meski berkumpul dalam jumlah yang besar sekalipun. Tapi Event Haul ini, Habib Ali Habsyi lah pemantiknya”, cahaya yang mereka bawa sekecil apapun akan dinyalakan oleh Habib Ali Habsyi
Jika diibaratkan “wadah”, maka Habib Ali yang membuka wadah itu, dan Allah SWT dan Nabi SAW lah yang akan mengisinya. Jujur, “wadah” kita ini kotor dan bocor, hingga madad (pemberian ruhani) yang setiap hari disediakan oleh Allah SWT tak mampu kita tampung, atau jika kita sempat menampung nya, maka dalam sekejab cepat habis.
Haul Habib Ali Habsyi, khusus nya acara Maulid (menurut Saya pribadi) adalah tempat dibaginya madad tadi, hingga kita yg datang dengan membawa wadah(hati) yang kotor setelah dibuka oleh Habib Ali, kemudian dikucuri “pemberian ruhani” oleh Allah SWT dan Nabi SAW, sadar atau tidak sadar, faham atau tidak faham, mau atau tidak mau. Koq bisa yang tidak mau juga dapat? Karena Allah SWT adalah Maha Pemberi, dan jika memberi tidak ada hitungannya. Bisa jadi mereka yang tidak tau mendapat pemberian Allah SWT lebih dari pada yang tau. Karena besarnya pemberian biasanya sesuai dengan besarnya pengorbanan. Koq bisa Habib Ali yang membuka wadah? Karena Beliaulah salah satu Pandangan Allah SWT dimuka bumi, maka orang-orang yang datang Acaranya, pasti mendapatkan pemberianNYA.
Itulah mungkin yang orang-orang dapatkan saat hadir di Event Haul ini, hingga mereka juga “ketagihan” rasa itu, dan datang tiap tahunnya meski harus berkorban apapun. Karena “madad” ini “mahal” dan tidak bernilai. Jika orang-orang yang mendapatkan keuntungan materi saja, sampai mengharap Haul ini 2 kali dalam setahun, karena mereka dapat keuntungan “dhohir” yang sangat besar (sebagai contoh parkir mobil aja 30rb sehari, padahal ada berapa ratus mobil)
Lalu bagaimana dengan orang-orang yang merasakan dapat keuntungan batin yang besar?
Sebagai contoh saja.
Pada Qosidah awal saat Maulid, ada bacaan
Allah Allah huu Allah Allah hu
Allah Allah huu Allah Allah hu
Robbi Faj’al na minal Akhyar
Setelah membaca Allah yang mana adalah salah satu ismullahul a’dzom. Kemudian berdoa, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang baik. Jika yang baca kita, mungkin kata “na” (kami), kita niatkan untuk keluarga atau maximal teman-teman dan orang-orang terdekat.
Tapi ada orang yang punya masyhad lebih luas, “kami”, mereka niatkan untuk semua yang hadir dari yang didalam, diluar, penjualnya, tukang parkirnya, bahkan copet nya. Dan masih ada yang masyhad nya lebih luas lagi daripada itu. Lalu, apakah Allah SWT akan menolak doa itu? Sedang Allah SWT sendiri yg menjanjikan pengabulan setiap doa.
Apalagi yang berdoa adalah ratusan ribu umat muslim.
Apalagi di acara seorang Wali yang berkedudukan tinggi disisi Allah
Apalagi yang berdoa adalah orang-orang para musafir.
Apalagi yang berdoa adalah kaum dhuafa
Apalagi yang berdoa adalah umat muslim yang tidak saling mengenal satu dengan lain nya, dan mereka berkumpul karena CINTA
SEMOGA KITA TERMASUK ORANG YANG DICINTAI ALLAH SWT, DICINTAI RASULULLAH SAW DAN DICINTAI PARA WALI NYA
solo, 31 Jan 2015

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.