Kembang Padang Ilalang

Sasaran dari Rihlah Dakwah adalah orang-orang yang masih jauh hubungannya dengan masjid, mengaku Muslim tapi belum sepenuhnya menjalankan ajaran Islam. Di kesempatan ini, Tim Rihlah Dakwah akan menuturkan pengalaman penyelenggaraan acara tersebut di Masjid As Syiar, Kestalan, Banjarsari Surakarta.

Bangunan masjid yang berukuran kurang lebih 10 x 20 meter ini adalah milik lembaga Radio Republik Indonesia (RRI). Lokasinya berada dalam kompleks perkantoran RRI Surakarta. Awalnya, Masjid As Syiar tertutup dari masyarakat umum. Hanya digunakan dan dikelola oleh lingkungan pegawai RRI. Sekitar tahun 2006, sekelompok warga dan pemuda dengan dukungan oleh KH Abdul Karim memohon ijin kepada pihak RRI Surakarta untuk membuka akses Masjid As Syiar bagi masyarakat di sekitarnya. Niat tersebut disambut baik, dengan membangun halaman dan pintu bagi masyarakat sekitar. Pihak Pemerintah Daerah turut membantu dengan menyediakan tenaga kerja sebanyak 8 orang.

Telah menjadi rahasia umum, bahwa wilayah Kestalan di sekitar RRI banyak didapati hotel-hotel melati. Aktivitas prostitusi diduga banyak ditemukan di lingkungan tersebut. Hal tersebut mempengaruhi berkembangan kegiatan di Masjid As Syiar. Setelah dibuka untuk umum, jumlah jamaah yang istiqomah ke masjid hanya sedikit. Selama kurang lebih 7 tahun hanya ada sekitar 6 orang. Sekitar tahun 2007 terdepat relawan yang membimbing dan mengajarkan membaca Al Qur’an dari salah satu pesantren di Solo. Jumlah peserta yang ikut hampir 20 orang. Kebanyakan adalah perempuna yang merupakan PSK di lingkungan tersebut.

Pemilihan lokasi Rihlah Dakwah di Masjid As Syiar diawali dari permintaan seorang pengurus masjid tersebut yang juga sering hadir di beberapa aktivitas pengajian Masjid Jami’ Assagaf (MJA). Mas Gandhul, namanya. Ia bekerja sebagai pedagang tanaman hias. Permintaan tersebut disambut oleh Tim Rihlah dengan mensurvei lokasi dan berkoordinasi. Setelah sempat beberapa kali tertunda, akhirnya waktu yang disepakati tiba. Pertemuan sebanyak tiga kali dilaksanakan pada tanggal 16,23, dan 30 November 2013.

Sebelum acara dimulai, terlebih dulu Tim Rihlah didampingi Mas Gandhul mendatangi satu per satu jamaah yang telah dibagi undangan pada hari sebelumnya. Tergambar kondisi masyarakat di lingkungan tersebut yang minim bimbingan ajaran Islam. Pada pertemuan pertama disampaikan materi seputar tauhid. Disampaikan oleh Ustadz Abdurrahman Mulachela. Di saat sesi pertanyaan dibuka, muncul pernyataan mengejutkan dari salah seorang jamaah yang hadir. Ia adalah non muslim yang menyatakan ingin masuk Islam (menjadi mualaf). Di akhir penyampaian materi, Ustadz Abdurrahman membimbing jamaah tersebut mengucapkan dua kalimat syahadat sebagai pertanda memeluk agama Islam. Setelah itul, ia pun diajari cara berwudhu, karena akan menjalankan shalat dzuhur berjamaah di Masjid As Syiar.

Pada pertemuan kedua, materi yang disampaikan seputar wudhu. Berbeda dengan pertemuan sebelumnya, narasumber yang menyampaikan adalah Ustadz Abdurrohim. Jamaah yang hadir tidak jauh berbeda dengan pertemuan sebelumnya. Beberapa diantara mereka adalah para penjaga (room boy), sekaligus merawat hotel-hotel melati yang ada di sekitar Masjid As Syiar. Di sela penyampaian materi, terungkap pernyataan seputar kondisi keagamaan mereka. Banyak diantara mereka adalah Muslim namun belum taat menjalankan ibadah. Bukan karena tidak mau beribadah, melainkan sebagian besar tidak tahu tata cara beribadah seperti wudhu dan shalat. Bacaan syahadat saja belum sepenuhnya hafal dengan sempurna, apalagi bacaan lain dalam Al Qur’an.

Pertemuan ketiga atau yang terakhir membahas materi seputar shalat dan tata caranya. Kembali materi disampaikan oleh Ustadz Abdurrahman Mulachelah. Kali ini didampingi oleh Ustadz Umar Zen yang biasa menyampaikan materi saat Rihlah Dakwah di berbagai tempat. Di akhir acara, dilakukan wawancara dengan salah seorang pengurus masjid dan jamaah. Pengurus masjid sangat berharap kegiatan Rihlah Dakwah tersebut terus dikembangkan dan dilanjutkan. Menurutnya, Rihlah Dakwah merupakan acara atau program yang sangat bagus, karena menjadi sarana penyebaran ilmu serta mewadahi umat Islam, terutama bagi mereka yang masih belum sepenuhnya menjalankan kewajiban dan menjauhi larangan agama. Ia juga berharap, setelah selesainya program Rihlah Dakwah di Masjid As Syiar, komunikasi dan silaturahmi dengan MJA dapat terus terjalin. MJA diharapkan dapat dijadikan rujukan atau sumber SDM yang menguasai berbagai pengetahuan agama untuk meningkatkan dan mencerdaskan umat.

 

 

 

Halaman 12-13

MJA TV

KRABA (Kreasi Anak Bangsa)

Berdasarkan penelitian para ahli, 50% kamampuan belajar seseorang ditentukan ketika ia berusia 4-5 tahun, dan 30% dibentuk sampai dengan usia sekitar 9 tahun, sedangkan pengetahuan yang diperoleh sesudah itu dibangun di atas dasar yang sudah ada. Sebagai media massa, pada satu sisi televisi merupakan sumber informasi, pendidikan dan hiburan, tetapi pada sisi lain televisi juga berisi informasi negatif seperti kekerasan, bahasa kasar, tidak santun, konsumtivisme, mistik, pornografi, dan nilai moral yang rendah. Di samping itu banyak iklan tidak sesuai seperti konsumtif dan hedonistik. Siaran televisi menampilkan gambar, suara, warna, gerakan-gerakan yang begitu cepat berganti-ganti, membuat otak anak menjadi overload. Sel-sel syaraf otak yang tidak tersambung akan mati, sehingga kemampuan anak dalam memaknai respon-respon dari lingkungan akan terganggu, dan waktu belajar anak akan terhambat.

Di tahun 2014 ini MJA TV sebagai sebuah lembaga penyiaran televisi berupaya untuk memperbaiki dan meningkatkan efektivitas program yang ditayangkan. Selain itu, program baru merupakan salah satu wujud perhatian MJA TV terhadap kebutuhan atau minat masyarakat terhadap tayangan yang mendidik tetapi tetap menghibur, terutama bagi anak-anak. Minimnya tayangan anak-anak yang menarik dan mendidik mendorong MJA TV menelurkan tayangan yang diberi nama KREASI ANAK BANGSA (KRABA). Tayangan ini memiliki keunggulan berupa tampilan kreativitas siswa-siswi sekolah dan para remaja di bidang seni. Selain tayangan seputar bakat dan kreativitas tersebut, kami juga ingin menampilkan profil secara singkat lembaga tempat bernaung dilengkapi dengan wawancara orang-orang yang terkait dengan para siswa/remaja berbakat tersebut.

Tujuan dari tayangan ini adalah untuk memotivasi siswa sekaligus mengenalkan lembaga atau komunitas yang menaunginya seperti sekolah dan sanggar kesenian.

Agar proses peliputan berjalan efektif dan efisien bagi kedua belah pihak, maka perlu adanya koordinasi yang tepat. Karena itu, kami memohon kesediaan narasumber untuk menentukan waktu liputan. Proses liputan diawali dengan koordinasi antara kepala/ketua lembaga dengan kru MJA TV. Koordinasi seputar waktu liputan, kreasi yang akan diliput, serta hal teknis lain yang berkaitan.

Kreativitas yang ditampilkan dapat berupa aneka bakat di bidang kesenian maupun keterampilan. Setiap lembaga dapat menampilkan lebih dari satu bakat anak didiknya. Lokasi atau latar belakang liputan ditentukan berdasarkan kesepakatan antara narasumber dengan kru MJA TV. Diupayakan yang terjangkau oleh kedua belah pihak dan sesuai dengan standar liputan. Para narasumber dimohon untuk menentukan waktu (hari dan tanggal) untuk setiap peliputan.

Hasil liputan terlebih dahulu melalui proses editing sebelum ditayangkan. Durasi penayangan antara 30-45 menit untuk episode. Setiap peliputan (pengambilan gambar) untuk setiap narasumber diupayakan untuk 1 episode.

Segala bentuk peliputan acara ini tidak dikenakan biaya apa pun hingga proses penayangannya di MJA TV. Hasil peliputan secara otomatis menjadi hak milik MJA TV. Apabila pihak yang bersangkutan (narasumber) ingin memiliki hasil rekaman peliputan dari MJA TV cukup mengganti biaya sesuai dengan kesepakatan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.