Mencari Ilmu

rauha

Ihsan adalah mengerjakan ibadah dengan sebenarnya dan mengerjakan dengan jalan yang sesuai dengan perintah Allah SWT dengan penuh khusyu’, khudhu’, ikhlas dan menghadirkan Allah SWT dalam hati kita.

Berusaha menyembah Allah SWT seakan-akan melihat-Nya. Jika tidak mampu maka berpikirlah bahwa sesungguhnya Allah SWT melihat kamu.

Dimana saja, kapan saja, dengan siapa saja. Contoh mudah adalah kita pahami bahwa Allah SWT memiliki sifat seperti sama’ (Maha Mendengar), bashir (Maha Melihat), dan ‘alim (Maha Mengetahui). Dengan itu kita akan senantiasa merasa diawasi oleh Allah SWT. Untuk mencapai hal itu, kita harus mengetahui cara-cara ibadah yang akan kita lakukan.

Maka kita harus berdekatan dengan para ahli ilmu dan belajar kepadanya. Ilmu mempunyai derajat kemuliaan yang tinggi. Dengan ilmu tersebut kita sertai amal. “Barangsiap yang bertambah ilmunya, tapi tidak bertambah hidayah/dekat dengan Allah SWT, maka yang akan bertambah adalah jauhnya kepada Allah SWT.”

Orang-orang yang mencari ilmu dibagi menjadi 3 golongan :

1. Seorang yang mencari ilmu dan dia menjadikan ilmu tersebut untuk menuju akhirat selamanya. Dan tidak mencari ilmu melainkan hanya karena Allah SWT dan untuk negeri akhirat. Ini adalah golongan yang sukses mencari ilmu. Menjadi orang ‘alim yang besar, ‘alimul akhirat’  dengan 3 tanda :

  • Tidak mencari dunia dengan ilmunya
  • Maksudnya mencari ilmu untuk mendapatkan akherat
  • Sandaran ilmunya adalah Rasulullah SAW dalam setiap aspek kehidupan, perkataan maupun perbuatan. Karena itu, maka mari kita perbaiki niat mencari ilmu

2. Seorang yang mencari ilmu untuk membantu kehidupan duniawinya. Untuk mencari kemuliaan, kewibawaan, harta benda. Padalah ia merasa hal itu adalah maksud-maksud yang tidak baik. Orang ini termasuk dalam orang yang dikhawatirkan. Dikhawatirkan masuk dalam suul khatimah  jika mati sebelum bertaubat (meluruskan niatnya) sebelum ajal, lalu mulai mengamalkan ilmunya dan memperbaiki kekurangannya/keburukannya, maka ia akan dikumpulkan dengan golongan 1.

3. Seseorang yang mencari ilmu tapi terkelabui dan dikuasai oleh syetan. Ia menjadikan ilmunya sebagai usaha untuk memperbanyak harta benda dan berbangga-bangga dengan kewibawaan dan senang dengan banyaknya pengikut. Orang dalam golongan ini adalah orang-orang yang celaka.

Jadilah orang golongan pertama. Hati-hati dengan golongan kedua. Jangan sampai menjadi golongan ketiga. Karena ia tak bisa diharapkan lagi kebaikannya dan kebagusannya. Jika lurus, lurus dalam ilmu dan amalnya, maka akan berbuah. Buah dari ilmu itu yang disebut dengan Hidayah.

 

Sumber : Kitab Bidayatul Hidayah. Nyantri Ramadhan Masjid Jami’ Assagaf Surakarta, 19 Ramadhan 1433 H

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.