Ketentuan Puasa Ramadhan

Pengertian puasa menurut syariat adalah menahan diri dari semua yang membatalkan puasa mulai terbit fajar shubuh hingga terbenamnya matahari disertai dengan niat. Masuknya bulan suci Ramadhan, ditandai dengan sempurnanya bulan sya’ban (30 hari) atau dengan terlihatnya hilal (bulan sabit), sebagai tanda masuknya bulan.

Syarat wajibnya puasa

  1. Islam
  2. Baligh
  3. Berakal sehat
  4. Mampu berpuasa (tidak sakit, pikun dan lain-lain)

Rukun Puasa

  1. Niat. Niat tempatnya didalam hati, sedang pengucapan niat dengan lisan, menurut para ulama, untuk membantu menata niat yang ada didalam hati. Sedang lafadh niat yang dibaca adalah “Nawaitu shouma ghodin an adaa’i fardhi shahri romadhona hadhihi sanati fardhu lillahita’ala”. Saya niat berpuasa besok hari unutk menunaikan ibadah puasa Ramadhan tahun ini karena Allah semata.
  2. Imsak. Menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkan puasa sejak terbitnya fajar subuh sampai terbenamnya matahari (maghrib)
  3. Orang yang berpuasa itu sendiri

Yang membatalkan puasa

  1. Memasukkan sesuatu dengan sengaja ke dalam kerongkongan dan rongga tubuh.
  2. Muntah dengan sengaja
  3. Melakukan persetubuhan di siang hari
  4. Mengeluarkan mani dengan sengaja (bukan karena mimpi)
  5. Haidh
  6. Nifas
  7. Hilangnya akal atau gila
  8. Murtad

Hal-hal diperbolehkannya seseorang tidak berpuasa

  1. Sakit. Seseorang apabila sakit dan tidak mampu berpuasa atau jika ia berpuasa maka sakitnya akan bertambah parah menurut keterangan dokter yang dapat dipercaya maka diperbolehkan tidak berpuasa dan ia wajib mengqodho puasanya apabila ia sudah sembuh.
  2. Saffar ( orang yang sedang dalam perjalanan ). Orang yang dinyatakan saffar yaitu perjalanan dengan jarak 80,64 km lebih, boleh tidak berpuasa dan ia wajib mengqodho puasanya.
  3. Orang yang hamil. Orang yang keadaan, jika ia takut akan keselamatan dirinya sendiri dan anaknya, maka ia boleh tidak berpuasa dan ia wajib menqodho puasanya. Tapi jika ia dalam keadaan hamil dan yang ia takutkan hanya keselamatan anaknya, maka ia boleh tidak berpuasa dan ia wajib menqodho puasanya dan membayar fidyah.
  4. Orang yang menyusui. Wanita yang kondisi menyusui anaknya, jika ia takut akan kesehatan dirinya sendiri dan anaknya maka ia boleh tidak berpuasa dan ia wajib mengqodho puasanya. Tapi jika ia dalam kondisi menyusui anaknya dan yang ia khawatirkan hanya kondisi kesehatan anaknya maka ia boleh tidak berpuasa dan ia wajib mengqodho puasanya dan wajib membayar fidyah. Fidyah adalah : bersedekah atau memberi makan fakir miskin tiap-tiap hari ¾ liter beras atau yang sama dengan itu atau makanan yang mengenyangkan
  5. Orang yang tua. Orang yang sudah tua dan terlalu lemah untuk berpuasa karena kondisinya fisiknya, maka ia boleh tidak berpuasa dan wajib membayar fidyah tetapi tidak wajib mengqodho puasanya.
  6. Orang yang sakit. Orang yang sakit dan tidak dapat diharapkan akan kesembuhannya, maka ia boleh tidak berpuasa dan ia wajib membayar fidyah tapi tidak wajib menqodho puasanya.

 

Yang perlu diperhatikan

  1. Jika seseorang yang terkena wajib qadha puasa namun sampai Ramadhan tahun depan ia belum mengqadhanya, maka ia wajib mengqadha dan membayar fidyah
  2. jika seseorang dengan sengaja membatalkan puasanya tanpa udzur apapun, maka ia berdosa dan ia wajib mengqadha langsung satu hari setelah Idul Fitri
  3. jika seseorang yang udzur tidak puasa dan ia meninggal dunia sebelum mengqodho puasanya, maka hendaknya dikerjakan (diqodho) puasanya oleh keluarganya.

 

Sunah-sunah puasa

  1. Menyegerakan berbuka
  2. Berbuka dengan korma atau sesuatu yang manis
  3. Berdo’a sewaktu berbuka puasa
  4. Makan sahur
  5. Mengakhirkan makan sahur ( kira-kira 15 menit sebelum fajar )
  6. Memberi buka kepada yang berpuasa
  7. Memperbanyak sedekah di bulan Ramadhan.
  8. Memperbanyak membaca Al-Qur’an

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.